Selasa, 22 Agu 2017 14:44 WIB

Awal Mula Transportasi Online Menjamur di Indonesia

Fino Yurio Kristo - detikInet
Pengemudi GO-JEK. Foto: Lamhot Aritonang Pengemudi GO-JEK. Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Kini transportasi online di Indonesia sudah menjamur. Tak dapat dipungkiri salah satu pencetusnya adalah GO-JEK, yang di awal-awal berdirinya dulu, memang sempat menghebohkan. Tak ada salahnya mengingatnya kembali.

Di Indonesia, sepertinya GO-JEK yang pertama menghadirkan aplikasi ojek online sebelum pesaing bermunculan. Mengubah cara orang memesan kendaraan dengan cepat dan mudah, cukup dengan smartphone. Biayanya pun bisa dikatakan terukur.

Tahun 2011, GO-JEK sebenarnya sudah dirintis. Tapi barulah layanan itu melesat sejak peluncuran aplikasinya di ponsel Android dan iOS pada awal tahun 2015.

Beberapa media mancanegara ketika itu membahas fenomena GO-JEK. "Beberapa bulan lalu, perusahaan bernama GO-JEK, meluncurkan aplikasi yang memungkinkan user memesan ojek secara online. Aplikasi itu mengkalkulasi biaya perjalanan dan pengemudi akan menjemput penumpang di manapun," tulis media asal Amerika Serikat, Global Post.

Dibahas pula bagaimana GO-JEK mendapat resistensi dari tukang ojek tradisional. "Banyak warga Jakarta senang dengan versi ojek yang lebih baik itu. Tapi tak mengejutkan kalau tukang ojek tradisional tidak demikian. Di seluruh Jakarta, tulisan kalau GO-JEK dilarang masuk bermunculan," tulis mereka.

Seiring berjalannya waktu, tak lagi banyak terdengar resistensi dari ojek tradisional. Dan semakin banyak yang tertarik menjadi pengemudi GO-JEK, dari beragam latar belakang. Memberi peluang kerja terutama bagi lulusan SMP dan SMA.

Hasil survei Pusat Kajian Komunikasi, Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (Puskakom UI) terkait manfaat sosial aplikasi on demand, di mana dalam hal ini mengambil layanan GO-JEK, menemukan hal tersebut.

"Dilihat dari tingkat pendidikan mitra pengemudi GO-JEK, 85% mitra memiliki tingkat pendidikan SMP hingga SMA sederajat," ujar Peneliti Utama Puskakom UI Alfindra Primaldhi di Jakarta belum lama ini.

Bila di atas adalah penyerapan tenaga kerja untuk GO-RIDE, situasi serupa juga terjadi layanan GO-JEK untuk roda empat, yakni GO-CAR. Meskipun penyerapan sebagai driver di layanan ini lebih kecil dibandingkan dengan GO-RIDE. "Ada 56% mitra memiliki tingkat pendidikan SMP hingga SMA sederajat," imbuhnya.

Kisah Berdirinya GO-JEK

Seperti diketahui, GO-JEK dirintis salah satunya oleh Nadiem Makarim. Ia kuliah di Brown University, sebuah kampus di Rhode Island, Amerika Serikat. Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan kuliah pasca sarjana di Harvard Business School dan meraih gelar Master of Business Administration.

Kembali ke Indonesia, Nadiem sempat bekerja sebagai konsultan sebelum mendirikan GO-JEK. Ia pernah mengaku memang gemar menggunakan layanan ojek untuk menembus kemacetan Jakarta.

Terbersit di pikirannya untuk memudahkan penumpang dan pengojek terhubung dengan aplikasi smartphone. Dan lahirlah aplikasi GO-JEK pada awal tahun 2015.

Menurutnya, GO-JEK punya tujuan mendorong perubahan agar sektor transformasi sektor informal seperti ojek agar yang tadinya bekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu bisa beroperasi secara profesional dengan pendapatan lebih baik.

"Kami di sini berusaha untuk menawarkan solusi lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan pekerjaan. Dimana mereka yang hanya punya motor, punya smartphone, dan berkemauan keras bisa bekerja," ujarnya saat dulu meluncurkan aplikasi GO-JEK .

"Kami juga berusaha untuk mensejahterakan tukang ojek yang mungkin selama ini penghasilannya tidak seberapa dengan memberikan pendapatan tambahan yang didapat dari GO-JEK Indonesia ini," tambahnya.

"Dengan GO-JEK, para pengemudi ojek ini setidaknya lebih produktif karena mereka tidak hanya membawa penumpang saja, tetapi juga membantu berbelanja dan juga mengirimkan paket yang mana itu semua bisa menambah pendapatannya," ungkap Nadiem. (fyk/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed