"Seperti itu caranya untuk mendapatkan sinyal," kata Kepala Seksi Operasi Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Batalyon Infanteri 131/Braja Sakti, Lettu Inf. Septyan Dwi Nuryadi, menggambarkan kesulitan anggota TNI yang bertugas di perbatasan Indonesia-Malaysia untuk berkomunikasi.
Hanya ada satu operator nasional yang sinyalnya mampu mencapai pos-pos TNI di wilayah hutan dan perbukitan. Entah harus senang atau tidak, meski sinyalnya mencapai pelosok, paling bagus hanya muncul satu bar sinyal di layar ponsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pengalaman mereka, menggantungkan ponsel adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk menangkap sinyal. Dalam posisi menggantung, setidaknya sinyal dapat bertahan sedikit lebih lama, sehingga memungkinkan untuk berkirim dan menerima SMS, atau bertelepon.
Ada rindu menggunung di antara ponsel-ponsel yang tergantung itu. Tantangan terberat bagi anggota TNI tak hanya memastikan keamanan negara, tapi juga menahan kangen karena jauh dari keluarga dan orang tersayang. Sinyal telekomunikasi pun jadi barang mewah yang menjadi buruan.
Melepas rindu dengan menghubungi putrinya. (Foto: Adil Pradipta/detikINET) |
Itu sebabnya, ketika ada lokasi yang sinyal telekomunikasinya kencang, mereka tidak menyia-nyiakannya untuk sekadar menyapa orang tersayang lewat telepon, SMS atau video call.
Septyan menyebutkan, pos Satgas Pamtas Indonesia-Malaysia di Entikong, Kalimantan Barat tempatnya bertugas adalah salah satu wilayah yang jangkauan sinyalnya bagus. Ini menjadi daya tarik bagi rekan-rekan dari pos TNI lain yang kurang baik jangkauan sinyalnya, untuk memanfaatkannya ketika ingin menghubungi kerabat.
"Pos terdekat dari sini jaraknya 70 km, medannya berbukit-bukit. Sekitar 45 menit pakai motor. Mereka biasanya izin Komandan untuk turun ke sini. Di sini lebih bagus sinyalnya, Telkomsel-nya bisa dipakai telepon atau video call," sebut Septyan.
Hal ini diakui anggota lainnya, Tabak SO Praka Zulbakri. Sebagai prajurit TNI, jauh dari keluarga tak bisa dihindari. Risiko itu sudah siap mereka hadapi. Hanya komunikasi yang bisa jadi penawar rindu.
"Kami terbiasa di waktu-waktu seperti Lebaran tidak berkumpul dengan keluarga. Kalau sedang operasi begini tidak boleh pulang, kecuali ada anggota keluarga inti meninggal. Alhamdulillah sinyal bagus di sini jadi bisa komunikasi dengan keluarga," kata Zulbakri.
Zulbakri sendiri mengaku senang melakukan panggilan video call. Melalui video call, Zulbakri merasa lebih dekat seperti berhadapan langsung dengan istri dan anak laki-lakinya yang masih bayi.
"Dengan istri biasa video call. Disediakan juga WiFi di sini. Internet di sini memang tergantung cuaca. Kalau hujan suka terganggu. Tapi di sini masih beruntung. Masih banyak pos-pos lain yang jauh dari sini sulit sinyalnya," tutupnya.
Simak cerita lainnya dari wilayah perbatasan Indonesia di Tapal Batas detikcom. (rns/rou)
Melepas rindu dengan menghubungi putrinya. (Foto: Adil Pradipta/detikINET)