Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Fenomena Kebocoran Informasi di Institusi

Fenomena Kebocoran Informasi di Institusi


- detikInet

Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Saat ini kerap disebut sebagai era informasi. Dimana pihak yang memegang informasi digadang-gadang akan jadi pemenang. Alhasil, kebocoran informasi menjadi sesuatu yang tak bisa diterima. Apalagi jika sampai jatuh ke tangan musuh.

Menurut IGN Mantra, Ketua Academic CISRT, kebocoran informasi merupakan hal yang sangat penting untuk dicermati dan diantisipasi. Banyak kerugian dengan bocornya informasi kepada yang tidak berhak.

Lebih bahaya lagi, informasi itu lantas diperjualbelikan dan dipakai untuk merusak citra dan usaha institusi yang kehilangan informasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk itu segitiga kepentingan di negeri ini yakni pemerintah, swasta dan akademisi harus bahu membahu untuk menyelamatkan informasi masing-masing, melindungi dan menyimpan informasi dengan benar dan memberikannya kepada pemakai dengan aman dan sesuai kebutuhan," kata Mantra kepada detikINET, Rabu (21/11/2012).

Sebab banyak sekali masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui karena mengakses informasi ilegal dan menggunakan informasi tersebut tanpa ijin si pemilik. Ujung-ujungnya adalah menjadi tersangka karena mengakses informasi yang tidak perlu.

Nah, hal inilah yang ingin coba dikampanyekan dalam seminar dan workshop tentang 'Ancaman Kebocoran Informasi di Institusi dan Penanganan Insiden' yang digelar di Surabaya.

Acara tersebut merupakan even yang diselenggarakan Direktorat Keamanan Informasi Kementerian Kominfo, Indonesia Academic CSIRT dan Honeynet Indonesia bekerja sama dengan Pemprov Jatim dan ITS Surabaya yang diikuti sekitar 125 peserta.

Direktur Keamanan Informasi Kementerian Kominfo, Bambang Heru Tjahyono menjelaskan, pertumbuhan pemakai internet di Indonesia sangat cepat dan besar, ditambah dengan pertumbuhan smartphone. Sehingga saat ini dalam hitungan statistik smartphone beredar sekitar 26 buah/detik dan informasi dapat dihasilkan sekitar 3.000 file/detik.

Dengan pertumbuhan sebesar ini di Indonesia maka kesempatan untuk memperoleh informasi bagi para 'pemulung' informasi di Internet sangatlah terbuka lebar.

Sementara Dekan Fakultas Teknologi Informasi ITS Surabaya, Agus Zainal, memberikan ulasan bahwa kebocoran informasi sangat dipengaruhi kebiasaan individu masyarakat mengelola informasi tersebut.

Menurut Agus, di Jepang, orang-orang sudah sangat sadar untuk menyimpan dan menukarkan informasi. Mereka tidak sembarangan menggunakan informasi tanpa ijin, bahkan untuk menggunakan image/photo idolanya saja tidak diperkenankan disisipkan ke dalam web dan paper yang dipublikasikan.

Bila ini dilanggar maka konsekuensinya sangat besar, bisa tidak lulus ujian bahkan sampai kehilangan pekerjaan karena melakukan hal-hal sepele atau karena tidak mengerti aturan penggunaan informasi.

Untuk menangani kebocoran informasi ini maka perlu penataan yang benar dalam pemanfaatan informasi, siapa boleh mengakses apa, siapa mengurus apa, bagaimana cara menyimpan informasi, aturan memanfaatkan informasi yang akan berdampak baik kepada institusi tersebut.

"Keseriusan dari manajemen puncak untuk membuat kebijakan keamanan informasi akan menyelematkan informasi dari para pemulung informasi yang ada di ranah internet," Mantra menandaskan.


(ash/fyk)





Hide Ads