"Ya, dari berbagai warnet yang sering saya kunjungi, saya bebas saja mengakses pornografi di sana. Tidak ada sensor sama sekali," kata seorang sumber detikINET yang tinggal di kota Yogyakarta.
Padahal sesuai peraturan pemerintah, filter porno wajib dipasang. Di kota Yogya sendiri, dikeluarkan Peraturan Walikota (perwal) nomor 70 tahun 2010, tentang penggunaan layanan internet yang tersaring untuk melindungi masyarakat sehingga mendapat akses internet sehat dan aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ternyata, tidak semua warnet patuh begitu saja. Meski terancam pemblokiran dan razia oleh aparat, sebagian warnet terutama yang berskala kecil tetap saja enggan memasang filter porno.
"Kalau warnet yang cukup besar atau yang di sekitar perguruan tinggi yang pernah saya akses memang memasangnya. Namun saya pernah mengakses warnet cukup kecil dan di sana bebas mengakses pornografi," kata sumber yang lain.
Di sisi lain, belum diketahui secara pasti memang apakah pemblokiran pornografi membuat pengunjung warnet menurun. Salah seorang penjaga warnet menyatakan tidak ada dampak signifikan.
"Soalnya sekarang banyak yang lebih suka mengakses Facebook dan sejenisnya ketimbang akses porno," tukas Awang, operator warnet di kawasan Timoho, Yogyakarta. Ia menyatakan, warnetnya memasang filter porno sesuai ketentuan.
Namun memang masih banyak yang suka mengakses website mesum. "Dari pengamatan saya masih banyak website yang tembus filter porno. Para pengunjung ada yang sering mengunjungi website seperti ini," pungkasnya.
(fyk/ash)