"Berat jualan aplikasi berbayar di Indonesia. Orang kita suka yang gratisan," ungkap Leonard Agustinus, Account Manager Indonesia, Mobile Advertising Google saat berbincang dengan detikINET.
Menyiasati hal tersebut, Onad -panggilan akrabnya- menyarankan kepada para pengembang aplikasi untuk membuat aplikasi yang bisa dipergunakan secara global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Onad sendiri yakin dengan kemampuan anak bangsa dibidang teknologi. Hanya saja kreatifitas serta kendala bahasa sering kali mengganjal.
"Padahal sama saja tingkat kesulitan membuat aplikasi yang lokal dengan yang skalanya global. Tinggal pikirkan kontennya yang bisa dipergunakan secara global serta bahasa yang dipergunakan secara internasional. Dalam hal ini bahasa Inggris. Toh saat coding juga pakai bahasa Inggris kan?," tuturnya.
Game dan social network, sambungnya, saat ini masih menjadi aplikasi yang paling laku di Indonesia. Jika ingin mengembangkan aplikasi tersebut, Onad menyarankan agar membuat aplikasi yang membuat tingkat ketergantungan. Ibaratnya bermain layangan, developer harus pintar-pintar menarik ulur emosi penggunanya.
"Game dan social network laku di Indonesia. Buat aplikasi sebaik-baiknya, tidak ada bug, tampilannya juga harus menarik karena pengguna smartphone itu sangat kritis. Di samping itu, rating dan komentar sangat penting," tukasnya.
(afz/fyk)