Sebuah laporan di surat kabar New York Times, yang ditulis oleh Sharon LaFraniere dan David Barboza, menuliskan peristiwa yang dialami seorang pengusaha asal Beijing, China terkait dengan hal ini.
Pekan lalu, pengusaha tersebut mengobrol dengan tunangannya via ponsel soal restoran yang akan mereka kunjungi. Bermaksud romantis, dalam percakapan itu, dia mengutip ucapan Queen Gertrude kepada Hamlet. "The lady doth protest too much, methinks," demikian bunyi kutipan dari karya sastra Hamlet yang diucapkan dalam bahasa Inggris tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih mengejutkan lagi, ketika dia mencoba mencantumkan kata 'protes' melalui email, layanan emailnya pun langsung dimatikan. Pertama, dia diblokir dari koneksi VPN, kemudian Gmail, dan situs-situs seperti LinkedIn hingga Hong Kong Stock Exchange.
Jika benar pemerintah China melakukan ini, seperti diperkirakan para pengamat bahwa China tampaknya sangat mewaspadai kemungkinan terjadinya gejolak kebebasan berekspresi di negerinya. Apalagi, mengingat gelombang protes melalui social media tengah menjadi tren yang berhasil menggulingkan pemerintahan di negara-negara kawasan Timur Tengah.
(rns/ash)