Dari studi sebelumnya, sudah diketahui bahwa jejaring sosial cenderung memberi dampak assortative pada karakter para penggunanya. Contoh perilaku assortative yakni para pengguna jejaring sosial cenderung berteman dengan mereka yang berusia, berkebangsaan, memiliki ras atau tingkat pendidikan yang sama.
Ahli psikologi Johan Bollen dan timnya dari University of Indiana menduga kemungkinan hal ini bisa juga terjadi di Twitter dan berhubungan dengan tingkat kebahagiaan para penggunanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir New Scientist dan dikutip detikINET, Selasa (15/3/2011), secara spesifik, mereka mengukur konten emosional yang terkandung dalam setiap tweet, apakah itu termasuk kata positif atau negatif berdasarkan kosa kata di bidang psikologi. Dari sini, peneliti menilai tingkat 'kesejahteraan subjektif' para pengguna yang terlihat dari tweet mereka.
Pada akhirnya, studi ini menemukan kesimulan bahwa orang-orang yang lebih bahagia cenderung nge-tweet dan menerima tweet dari mereka yang juga bahagia. Pola yang sama berlaku juga untuk mereka yang kurang bahagia.
"Ini membuktikan bahwa pengguna Twitter terhubung dengan mereka yang memiliki tingkat kebahagiaan yang sama," kata Bollen.
Dia mengaku belum mengetahui penyebabnya. Namun sepertinya, orang-orang bahagia dan yang tidak, dengan sendirinya saling menemukan saat melihat ekspresi tweet yang mirip dengan keadaan dirinya.
Atau, seperti diduga Bollen, bisa jadi emosi yang diekspresikan meski hanya melalui tulisan singkat, bersifat menular. Dengan demikian, tweet tersebut mempengaruhi semangat orang lain yang membacanya, entah itu menjadi senang atau sedih, tergantung dari tweet yang dibacanya.
(rns/ash)