Kisah sukses itu disampaikan oleh Rektor Unikom Eddy Soeryanto Soegoto, saat berbincang dengan detikINET di kampus Unikom, Jalan Dipati Ukur 102-118, Senin (26/4/2010). Kabar juga sampai ke redaksi detikINET dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di San Francisco.
Ternyata, ada sebuah kisah ringan soal jaket kontingen yang sempat jadi kendala sebelum tim tersebut berangkat. "Jaket kontingen terlalu kecil. Tidak ada ukuran besar. Bagaimana nasib yang berbadan besar nanti," kata Ketua Divisi Robotika Unikom Yusrila Yeka Kerlooza saat berbincang dengan detikINET, sebelum berangkat ke AS awal April 2010 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentunya, soal jaket ini diakui Yusrila hanyalah hal sepele. Kendala kecil semacam ini, ujarnya ketika itu, memang selalu saja ada. Yusrila pun tidak terlalu menyalahkan kondisi tersebut. Karena, dirinya baru mendapatkan kepastian bahwa timnya berangkat bertanding pada bulan Januari 2010 lalu.
Lebih dari sekadar soal jaket, Yusrila mengakui ada 'beban' lebih pada dirinya dan tim dari Unikom karena harus mengawal kontingen Indonesia. "Kebetulan juga karena kita diamanatkan menjadi koordinator tim Indonesia. Karena kita dianggap lebih berpengalaman karena ikut dan menang kompetisi tahun 2009 kemarin," ungkapnya.
Tim Indonesia menurunkan satu robot untuk kategori berkaki dari ITB. Selain itu ada jajaran robot dari Unikom yakni DU 114 dan DU 114 v 10 untuk kategori beroda dan Next 116 dan DU 116 untuk kategori berkaki. DU 114 adalah robot yang akhirnya menggondol emas untuk kategori open fire fighting autonomous robot.
Dalam kompetisi itu, Indonesia terbukti mampu menggusur pesaing beratnya. Ini termasuk, tim dari Cina yang pernah menjadi juara 2 kali berturut-turut untuk kategori beroda.
Foto: Rodi Hartono dan robot jawara. Dokumentasi Konsulat Jenderal RI di San Francisco.
(wsh/wsh)