Tapi anehnya, kita tetap melotot memandangi drama ini berjalan di depan mata. Pecahan kaca, runtuhan tembok, serpihan kayu dan logam. Tubuh manusia. Darah. Darah. Darah.
Randall Munroe, pembuat komik xkcd.com, menyebutnya sebagai disaster voyeurism. Betapa manusia diam-diam tertarik menyaksikan sebuah bencana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maaf, ia bukannya tidak sensitif apalagi seorang yang sadis. Teman ini hanya mengungkapkan apa yang mungkin diam-diam ada di benak semua orang: seandainya tragedi ini lebih besar lagi.
Tapi mau sebesar apa lagi? Tragedi yang menghantam dua hotel super mewah (dan super ketat) itu sudah terlalu berlebihan. Satu bom meledak saja sudah terlalu banyak, apalagi kalau sampai mengambil nyawa.
Paling Aman?
Ngomong-ngomong soal dua hotel korban serangan itu. JW Marriot dan Ritz Carlton punya reputasi bukan hanya sebagai dua di antara hotel-hotel paling mewah di Jakarta, tapi juga dua di antara hotel paling aman di Jakarta.
Hal itu bisa dilihat dari pengamanan yang dilakukan keduanya. Mulai dari menempatkan metal detector, menjauhkan jarak lobi hotel dari pinggir jalan hingga menggunakan prosedur pemeriksaan mobil yang terlihat ketat.
Namun buktinya, pelaku bisa masuk ke dalam hotel dan meledakkan bom di dalam lokasi hotel. Bukan dari pinggir jalan, bukan dari jarak jauh, tapi benar-benar di dalam bangunan hotel yang konon paling aman di Jakarta itu.
Bruce Schneier punya istilah untuk prosedur pengamanan yang ternyata tidak aman seperti ini --istilah yang saya adopsi ke dalam judul tulisan ini. Bruce menyebutnya 'security theater'.
"Teater keamanan mencakup semua upaya pengamanan yang dimaksudkan untuk memberikan perasaan peningkatan keamanan padahal tidak atau hanya sedikit memperbaiki pengamanan sesungguhnya" (Wikipedia)
Tapi jangan buru-buru menganggap serangan yang terjadi adalah kesalahan pengamanan kedua hotel itu. Seorang tokoh pernah mengatakan, hanya butuh segelintir orang dengan niat jahat untuk menjalankan aksi terorisme.
Pada Sebuah Komputer
Dalam skala yang jauh lebih 'damai' adalah keamanan di komputer. Pengguna awam seringkali merasa sangat cukup dengan hanya memasang program antivirus.
Program antivirus ini pun kerap muncul bagaikan pertunjukan teater belaka, lengkap dengan pesan-pesan penuh percaya diri seperti: "Komputer Anda 100% Terlindungi!"
Padahal, penggunaan antivirus tak pernah bisa menjamin sebuah komputer aman sepenuhnya. Bahkan, boleh dibilang, tak ada yang bisa menjamin sebuah sistem komputer akan aman seratus persen.
Pengguna komputer boleh-boleh saja merasa aman dan menikmati teater keamanan dari berbagai program pengaman komputer yang dipasangnya. Tapi jangan mencak-mencak pada program itu kalau suatu hari terjadi 'bencana'.
Bukan juga berarti bahwa pengguna harus mencabut seluruh kabel dari komputer dan kembali ke mesin ketik, hanya demi menghindari ancaman keamanan yang ada.
Jika itu yang dilakukan berarti mereka, para pembuat program jahat dan penjahat cyber, telah menang. Dan kita jangan pernah membiarkan mereka menang.
Kunci keamanan komputer adalah selalu berhati-hati dan waspada, apalagi jika terkait data-data sensitif (termasuk password, akses online banking dan lainnya). Kemudian, sadarilah, tak ada sistem yang 100 % aman dan lakukan langkah yang perlu untuk mengantisipasi 'bencana'.
Ah.. sudah cukup. Mari kita format ulang semua asumsi pertunjukan keamanan yang tak enak ditonton itu. Mari kita kembali ke nol kilobyte.
Catatan Nol Kilobyte adalah opini dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.
(wsh/wsh)