Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
OPPO Terlempar dari 5 Besar Merek Ponsel Terlaris, Strategi Mulai Goyah?

OPPO Terlempar dari 5 Besar Merek Ponsel Terlaris, Strategi Mulai Goyah?


Gezita Inova - detikInet

Logo OPPO
Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom
Jakarta -

Persaingan industri smartphone global semakin ketat sepanjang 2025. Sejumlah laporan analis industri menunjukkan adanya perubahan peta kekuatan produsen ponsel dunia, termasuk tekanan yang mulai dirasakan oleh OPPO.

Dalam beberapa laporan pasar, OPPO tidak lagi konsisten berada di posisi lima besar produsen smartphone global. Kinerja OPPO mengalami penurunan dibandingkan para pesaingnya di industri yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perubahan posisi tersebut muncul di tengah dinamika industri smartphone yang terus berkembang dan persaingan yang semakin intens di berbagai segmen pasar.

Penurunan Volume Distribusi

ADVERTISEMENT

Tekanan terhadap OPPO tecermin dari kinerja distribusi perangkat secara global. Sepanjang 2025, OPPO tercatat mengalami penurunan pengiriman smartphone dengan pertumbuhan negatif sekitar 4% secara tahunan.

Kondisi tersebut membuat posisi OPPO semakin tertekan di pasar global. Jika sebelumnya sempat berada di peringkat empat pada awal 2025, perusahaan bahkan dilaporkan sempat terlempar dari daftar lima besar produsen smartphone dunia pada periode berikutnya.

Di sisi lain, sejumlah produsen lain justru mencatat kinerja lebih stabil dan bahkan mengalami pertumbuhan positif.

Persaingan Agresif dari Xiaomi dan Transsion

Persaingan yang semakin agresif dari vendor lain menjadi faktor penting yang menekan posisi OPPO. Di pasar Indonesia, misalnya Xiaomi berhasil memimpin dengan pangsa pasar sekitar 19%, diikuti oleh Transsion Group dengan 18%.

Sementara itu, Samsung berada di posisi berikutnya dengan 17% dan OPPO berada di kisaran 16%.

Grup Transsion yang menaungi merek seperti Infinix dan Tecno juga berkembang pesat dengan strategi menghadirkan smartphone dengan harga sangat terjangkau. Penetrasi kuat di pasar ritel offline turut mempercepat ekspansi mereka di berbagai negara berkembang.

"Transsion terus mendominasi segmen yang sedang berkembang dan tidak terklasifikasi, menyumbang lebih dari 18,3 persen pengiriman melalui perangkat 5G ultra-terjangkau yang harganya di bawah Rp3.000.000," tulis TelecomLead dikutip Senin (16/3/2026).

Strategi harga agresif yang ditawarkan para pesaing ini membuat OPPO menghadapi tekanan yang lebih besar dalam mempertahankan pangsa pasar.

Tekanan di Segmen Mid-Range dan Premium

Selain persaingan harga, OPPO juga menghadapi tekanan di segmen mid-range yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utamanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, ponsel kelas menengah dengan harga sekitar Rp3 - 6 juta mengalami peningkatan spesifikasi yang signifikan. Banyak vendor kini menawarkan fitur, seperti chipset lebih kencang, kamera beresolusi tinggi, layar refresh rate tinggi, serta baterai besar dengan harga yang kompetitif.

Fitur-fitur tersebut sebelumnya hanya tersedia di perangkat flagship, tetapi kini menjadi standar baru di segmen menengah. Akibatnya, konsumen menjadi semakin kritis dalam membandingkan harga dan spesifikasi sebelum membeli smartphone.

Dalam sejumlah ulasan industri, OPPO dinilai memiliki kekuatan pada desain dan kualitas kamera, tetapi sering dianggap menawarkan harga yang relatif lebih tinggi dibanding beberapa pesaing dengan spesifikasi serupa.

Perubahan Pola Distribusi dan Konsumsi

Selain tekanan dari kompetitor, perubahan perilaku konsumen juga memengaruhi dinamika pasar smartphone. Konsumen kini semakin mempertimbangkan nilai yang diperoleh dari perangkat yang dibeli, terutama di segmen menengah yang menjadi arena persaingan utama berbagai vendor.

Di Indonesia sendiri, selisih pangsa pasar antarvendor kini semakin tipis. Hal ini menunjukkan bahwa dominasi satu merek semakin sulit dipertahankan karena konsumen memiliki lebih banyak pilihan dengan spesifikasi dan harga yang kompetitif.




(ega/ega)




Hide Ads