Kesenjangan Digital Lebih Akut dari Kesenjangan Nutrisi?
- detikInet
Jakarta -
Microsoft kembali menggelar program software murah untuk negara miskin dan berkembang. Software bantuan dibundel dalam paket khusus bernama Student Innovation Suite, yang dibandrol US$3 atau sekitar Rp 27 ribu.Para pengamat pun mengomentari program tersebut. Roger L. Kay, presiden perusahaan penelitian Endpoint Technologies Associates menilai, paket software murah yang digelar Microsoft kali ini adalah cara lain perusahaan melakukan ekspansi produk. Menurutnya 'pengorbanan' apapun yang dilakukan Microsoft demi membantu negara berkembang, tidak akan mengguncang kondisi keuangannya. Setiap tahunnya, hasil penjualannya selalu berkisar pada angka US$ 45 miliar atau sekitar Rp 409,6 triliun."Microsoft sedang 'bertaruh', harapannya paling tidak akan ada sejumlah anak dari negara berkembang akan menjadi konsumen produk mainstream mereka di masa mendatang. Teorinya, kalau Anda meraih mereka saat masih muda, maka mereka bisadipelihara seumur hidup," papar Kay.Orlando Ayala, senior vice president at Microsoft's emerging segments market development group mengungkap, terdapat sekitar satu miliar pengguna komputer di seluruh dunia, mayoritas ada di negara berkembang. Menurutnya, program Microsoft ini bertujuan untuk bekerja sama dengan banyak kalangan industri dan akhirnya mampu merangkul sekitar satu miliar pengguna komputer lagi menjelang 2015.Belum lagi program ini selesai, Microsoft telah merencakan program baru berupa penambahan 200 Microsoft Innovation centre di 25 negara dalam 2 tahun ke depan. Pusat-pusat pengembangan ini nantinya akan melatih warga lokal dalam pengembangan software dan juga penyediaan asisten untuk memulai bisnis mereka.Program serta rencana Microsoft tersebut juga tak lepas dari perdebatan. Para ahli pengembangan ekonomi mempertanyakan apakah sumber daya yang ada di negara berkembang sudah memadai untuk disuplai komputer. Karena di sisi lain masih banyak kebutuhan mendesak lainnya seperti melatih para guru, membangun sekolah dan membeli buku.Pakar ekonomi Bank Dunia Aaditya Mattoo menyinggung pentingnya program ini dibanding isu kesenjangan nutrisi."Saya tidak melihat bukti kondisi kesenjangan digital lebih akut dibanding kesenjangan nutrisi, pendidikan dasar atau kesehatan," Namun pandangan lain diungkap oleh wakil presiden Asian Development Bank Larry Greenwood. "Teknologi komunikasi informasi memegang peran signifikan untuk mengurangi kemiskinan," ujarnya.Minggu ini juga, Microsoft mengumumkan telah menjalin kerjasama dengan Asian Development Bank untuk mendukung pengusaha teknologi lokal, dengan menggunakan teknologi dalam pembelajaran dan mempromosikan program-program penelitian lokal.
(lni/nks)