Catatan Oleh Rama
Berdamai dengan Game Keras
- detikInet
Jakarta -
Pembaca, jika kita menyebut nama RockStar Games, pastilah kita akan teringat dengan salah satu game besutannya, Grand Theft Auto (GTA). Game yang memadukan unsur balapan, fiksi, bahkan kekerasan ini ternyata cukup populer dan digandrungi, khususnya di kalangan remaja. Kesuksesan tersebut, yang ditanggapi dengan positif dan negatif, ternyata cukup menggugah minat pengembang game lain untuk membuat tiruannya.Mengapa populer? Jawabannya ada pada keunikan fitur yang diusung game ini. Dalam game berjenis action-racing ini, pemain diberi kebebasan untuk menjelajah kota, kebut-kebutan di jalan, bahkan melawan aparat penegak hukum yang merintangi misi kita.Pemain pun dibekali berbagai macam persenjataan mutakhir, mulai dari pistol, granat, sampai bahan peledak yang mampu meluluh-antakkan kendaraan dan gedung (termasuk manusia tentunya).Intinya, meskipun di dalam game ada misi-misi yang harus diselesaikan, pemain diberi keleluasaan untuk melakukan berbagai hal sekehendak hati.Sayangnya, GTA yang tergolong inovatif ini pun tak luput dari pandangan negatif. Jack Thomson, salah satu pengacara kondang di Amerika kerap kali menuding serial GTA sebagai penyebab maraknya aksi kekerasan di kalangan remaja. Tak jarang Jack mengikutsertakan GTA dan tiruannya dalam laporan kasus tindak kekerasan yang dibawanya ke publik.Alasan utama Jack menjadikan game semacam GTA sebagai salah satu biang tindak kekerasan adalah karena muatan sosial -- yang dipandang negatif olehnya -- yang begitu nyata dalam game ini.Berbeda dengan Doom, Duke Nukem, atau Counter Strike yang lebih mengutamakan aksi tembak-tembakan, GTA dan tiruannya bahkan telah memasukkan unsur sosial yang lebih luas lagi, seperti praktek prostitusi dan pornografi.Namun pengembang game yang tak mempedulikan seruan Thomson itu justru makin gencar merilis game-game serupa GTA. Mereka berpendapat bahwa selama game tersebut tetap diperlakukan sebagai media hiburan semata, dan tentu saja laku keras di pasaran, tak ada alasan bagi mereka untuk berhenti. Lagipula tindak kekerasan dapat terjadi di manapun dengan sebab-sebab yang beraneka ragam. Jadi, tak adil rasanya bila kita mengkambinghitamkan game semata sebagai asal-muasal lahirnya tindak kriminal di kalangan remaja.Waspada. Itu salah satu sikap paling bijaksana bila Anda berdiri di tengah-tengah dua kubu ini.Anda -- khususnya orangtua -- ingi putera-puteri Anda senang bermain game, tapi Anda juga ingin mereka aman dari pengaruh-pengaruh buruk game ala GTA.Pada artikel ini, penulis mengulas beberapa game tiruan GTA yang sempat populer di dunia game.Dengan demikian, Anda dapat mengenali karakteristik GTA dan tiruannya, kemudian menentukan langkah apa yang hendak diambil; Acuh, waspada, atau bahkan menghentikan sama sekali peredaran game semacam ini di rumah Anda.25 to Life (PS2, Xbox)Game besutan Eidos ini mengambil gaya shooter-nya GTA. Ingat area-area berbahaya di Liberty City?Nah, Anda bakal berada di sana, ditemani dengan hingar-bingar suara alarm mobil dan tembakan, plus musik hip-hop. Bedanya dengan GTA, 25 to Life ini game online multiplayer."Bayangkan juga action online SOCOM yang berlangsung di jalanannya Grand Thef Auto," jelas penggagas game ini, Denny Chiu dari Eidos.Game action shooter bersudut pandang orang ketiga ini mengisahkan perlawanan penjahat terhadap polisi - yang keduanya bisa di-customize dengan deathmatch konvensional tapi inovatif.Yang menarik dari game ini adalah lingkungan yang interaktif. Beda dengan game menembak pada umumnya, 25 to Life memiliki banyak picu yang dapat mengubah gameplay dan interaksi dinamis, seperti lighting yang dapat dirusak.Model karakternya juga seinteraktif level-levelnya. Satu lagi kelebihan game ini: mode-nya dapat dikonfigurasikan. Soundtrack-nya meliputi lagu-lagu dari Tupac, Ghost Face, DMX, dan Ghetto Star.Destroy All Human (PS2, Xbox)Anda bermain sebagai anggota ras Furon, julukan Anda Cryptosprodium (Cryto) 137. "137" ini menujukkan bahwa Anda merupakan kloning ke-137 dari Cryptosprodium orisinal. Furon dapat memperoleh immortality atau keabadian dengan cara memproduksi kloning.Sekarang ras ini dalam bahaya: produksi kloning berkurang karena gen Furon menipis. Ras alien yang terancam punah ini butuh cadangan DNA. Apa yang harus dilakukan? Bumi merupakan sumber materi genetis yang mampu memperpanjang kelangsungan hidup ras Furon. Anda mengemban misi ke Bumi untuk menguasai manusia dan merebut DNA-nya.Kota-kota dalam Destroy All Humans kelihatan luas, banyak pejalan kaki yang mudah diserang. Anda dapat menjelajahi kota dengan bebas dan style-nya mirip GTA."Ada banyak senjata canggih di sini. Anda juga punya keahlian lebih yang tidak biasa dimiliki alien," kata Andrew Goldman, CEO developer game ini, Pandemic. "Anda mendapat kebebasan penuh dalam game yang menggabungkan fun dan pengejaran target ini." Jak 3 (PS2)Sudah jadi rahasia umum kalau Jak & Daxter dan Jak II memuat spirit game andalannya Rockstar. Bukan cuma spirit, serial Jak ini juga mengikuti kesuksesan GTA."Beberapa gamer tersesat dalam setting kota di serial Jak," ujar Amy Henning, sang Design Director. "Dalam Jak 3, misinya lebih terfokus. Sebagian gamer bisa tetap mengeksplorasi area dengan leluasa, sementara gamer lainnya tidak perlu merasa frustasi karena kebebasan yang kami berikan."Kisah dimulai di tengah teriknya matahari yang menyinari padang pasir, sebuah alat transportasi kecil bergerak maju dan makin lama makin jelas. Tak lama, Jak keluar dari kendaraan itu. Sepasukan Crimson Guards berbaris mengawal Jak menyusuri padang pasir.Jak diasingkan seumur hidup di padang pasir karena telah melakukan tindakan kriminal terhadap penduduk kota. Setelah berjalan jauh, Jak mulai berhalusinasi, dan game pun dimulai!The Getaway: Black Monday (PS2)Sejak pemunculan pertamanya, banyak orang tahu kalau game ini terinspirasi dari serial GTA. The Getaway mengkombinasikan elemen-elemen dari genre action, shooter, dan racing, mirip GTA. Sekuel ini mengambil tempat dua tahun setelah peristiwa di Sol Vita. London masih menjadi setting utama, ditambah 17 lokasi termasuk Sungai Thames dan stasion kereta api bawah tanah. Ini hari pertama Sersan Mitchell kembali ke Met's (Metropolitan Police) dan ia harus segera berhadapan dengan orang paling kuat di London. Mitch bukan satu-satunya karakter yang bisa dimainkan, masih ada Eddie dan Sam.Masing-masing memiliki kemampuan dan alasan tersendiri bagaimana mereka terlibat dalam cerita. Jadi, dalam 48 jam ke muka game ini mampu menampilkan tiga perspektif yang berbeda. Untuk menamatkan Black Monday Anda harus menempuh 22 misi. Karena ada tiga perspektif berbeda, maka ending game ini pun bermacam-macam. Lokasi yang tampak realistis adalah gelanggang tinju East End.Mercenaries (PS2, Xbox)Sesuai dengan judulnya, Mercenaries mengharuskan player bertindak sebagai prajurit/tentara sewaan (mercenary) yang ditawari banyak kesempatan kerja. Pemain menghadapi ancaman tak terduga yang menyebabkan satu negara berada dalam bahaya.Posisi perdana menteri Korea Utara baru saja digantikan oleh seorang jenderal yang haus kekuasaan, Sung. Sung mulai mengancam dunia dengan serangan senjata nuklirnya. Sebagai tentara sewaan dari Amerika, Inggris, atau Swedia, Anda diperbolehkan memilih pola dan bayarannya. Setelah itu Anda terbang ke Korea Utara untuk menemukan ke-52 pelaku kejahatan yang mengganggu rezim baru Korea Utara.Seperti halnya peraturan main yang berlaku di GTA, Mercenaries membebaskan Anda melakukan apa saja atau membunuh siapa saja yang Anda tuju sesuai dengan misi yang dipilih.Tips Aman Untuk KeluargaJika Anda menemukan game-game ini, penulis menganjurkan untuk memperhatikan hal-hal berikut:1. Biasanya game semacam GTA diberi label M (Mature), artinya game ini hanya diperuntukkan untuk konsumsi orang dewasa. Tapi tak jarang game-game semacam ini juga berlabel T (Teenage), yang artinya remaja pun boleh memainkannya. Apapun labelnya, sebaiknya Anda memperlakukan mereka sebagai game berlabel M, dan memeriksa dengan teliti koleksi game yang hendak dibeli.2. Aktifkan "Parental Control" pada konsol yang memungkinkan Anda membatasi game-game apa saja yang dapat dijalankan konsol tersebut. Jika Anda sekubu dengan Jack Thomson, Anda wajib memblokir akses game-game berlabel M via parental control tersebut. Jangan lupa untuk menuliskan kode blokir yang panjang dan menyimpannya di tempat yang aman.3. Jika Anda tetap menginginkan anggota keluarga memainkan game berlabel M, sebaiknya game tersebut dimainkan bersama-sama. Pendampingan orangtua dapat juga dijadikan sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak yang memainkannya. Di sini orangtua dapat menjelaskan sisi positif dan negatif dari game yang sedang dimainkan, serta menekankan bahwa dunia game berbeda dengan dunia nyata.4. Berhubungan dengan poin ketiga, penulis tidak menganjurkan game-game berlabel M dikonsumsi oleh anak-anak di bawah usia remaja, karena pemahaman dan kesadaran akan tindak positif dan negatif masih terlalu labil. Sebaiknya batasi mereka untuk hanya mengkonsumsi game berlabel E (Everyone).Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com."Catatan Rama" lainnya:-Game di Indonesia: Antara Asli dan Bajakan-Raksasa Game Belum Pakai Senjata Pamungkas-Bisnis PS3 Tak Seindah Pendahulunya-Pertemanan di Internet, dari 'Friendster' sampai 'Sohib'- Nintendo Kembali Meraja di 2006- Video Game dari Generasi ke Generasi (2)-Video Game dari Generasi ke Generasi (1)- Basmi Pocong dengan Game Lokal- Bermain Game, Baik atau Buruk?
(nks/nks)