Ada yang Aneh dari Data di Smartwatch, Pas Di-PCR Positif COVID-19

Ada yang Aneh dari Data di Smartwatch, Pas Di-PCR Positif COVID-19

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 30 Sep 2021 08:16 WIB
Garmin Instinct Solar
Ada yang Aneh dari Data di Smartwatch, Pas Di-PCR Positif COVID-19. Foto: Lucas Aditya/detikINET
Jakarta -

Ada saja kisah penyintas COVID-19 yang penyakitnya terungkap dari data penggunaan smartwatch. Salah satunya adalah yang dialami oleh Rian Krisna Country Manager Garmin Indonesia. Rian mengaku bahwa ia memakai jam tangan pintarnya hampir 24 jam sehingga ia sering memantau kondisi tubuhnya.

Dalam acara Garmin 'Manfaat Gawai di Era Pandemi', Rabu (29/9/2021), Rian mengatakan bahwa di bulan Mei silam, ia awalnya merasa baik-baik saja dan tidak memiliki gejala. Namun ia merasa tubuhnya tidak fit seperti biasanya.

"Tapi saya tahu badan saya ada yang aneh. Saya cek lagi, pulse oxygen saya baik-baik saja, saya tidak ada perasaan apa-apa. Lalu saya lihat Body Battery saya tidak me-recharge secara normal. Dia naik turun agak tidak beratur," kisahnya.

Body Battery adalah salah satu fitur baru dari Garmin untuk memantau kondisi tubuh seseorang. Ini merupakan hasil dari algoritma pemantauan tubuh mulai dari detak jantung, Sp02, kadar stres (fisik dan emosional), sampai keurusan sleep hygiene atau kualitas tidur. Fitur ini sudah bisa digunakan untuk semua jam Garmin.

Menyadari ada yang aneh, ia langsung mencoba untuk melakukan tes COVID-19 karena saat itu angka kasus di Indonesia sedang tinggi-tingginya. Dan benar saja, dia dinyatakan positif COVID-19 setelah menyadari anomali dari kondisi tubuhnya.

"Ketika saya positif, pattern-nya naik turun (grafik body battery -- red) Ini yang memicu saya untuk PCR, mulai deh saya feeling something wrong with my body, saya tes lah dan ternyata hasil dari body battery ini mengonfirmasi apa yang saya rasakan," tuturnya.

Ketika ia mulai sehat dan membaik, grafik pada body battery menunjukkan hasil yang baik. Polanya sudah semakin teratur dan ia menyadari kondisi tubuhnya dari pemantauan 24 jam smartwatch-nya mengalami perbaikan.

"Tapi Garmin bukan acuan medis, ini hanya menjadi tolak ukur. Smartwatch bisa mengenali kondisi diri kita sendiri, bisa membaca diri kita ketika tidur, istirahat, recovery, sehingga algoritmanya jadi lebih baik. Menurut saya penting mengetahui badan kita sendiri. Jadi ketika ada perubahan sedikit, kita bisa aware," tandas Rian.



Simak Video "Bocoran Smartwatch Besutan Meta, Disebut Pesaing Apple Watch"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/afr)