Ini Alasan Apple Tak Izinkan Install Aplikasi dari Luar App Store

Ini Alasan Apple Tak Izinkan Install Aplikasi dari Luar App Store

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 29 Jun 2021 15:36 WIB
A demonstration of the newly released Apple products is seen following the product launch event at the Steve Jobs Theater in Cupertino, California, U.S. September 12, 2018. REUTERS/Stephen Lam
Apple. Foto: Stephen Lam/Reuters
Jakarta -

Di bawah Undang-undang Pasar Digital yang diusulkan Komisi Eropa, Apple mungkin terpaksa membolehkan pengguna untuk sideload aplikasi di iPhone mereka. Berupaya menghalau disahkannya aturan tersebut, raksasa teknologi yang bermarkas di Cupertino itu membeberkan alasan kenapa selama ini tidak mengizinkan install aplikasi dari luar App Store.

Sebuah dokumen setebal 16 halaman berjudul 'Membangun Ekosistem Terpercaya untuk Jutaan Aplikasi' baru saja dirilis Apple. Isinya lebih ke pembenaran mengapa App Store harus menjadi satu-satunya tempat di mana pengguna iOS dapat menemukan dan mengunduh aplikasi.

Menurut dokumen itu, dikatakan bahwa ponsel berisi informasi paling sensitif tentang kehidupan pribadi dan profesional kita. Dalam hal privasi, Apple percaya bahwa itu adalah hak asasi manusia yang mendasar dan prinsip itu memandu standar privasi tinggi yang mereka bangun ke dalam produk mereka.

Pengenalan label privasi dan App Tracking Transparency baru-baru ini tidak hanya menawarkan kontrol yang lebih baik kepada pengguna atas data mereka, tetapi juga memberikan lebih banyak informasi untuk memungkinkan pengguna membuat pilihan yang tepat dalam hal pemberian izin.

Dikatakan bahwa semua aplikasi yang terdaftar di Apple App Store ditinjau untuk memastikan bahwa aplikasi tersebut memenuhi standar tinggi dengan pedoman yang ketat. Proses peninjauan juga memastikan bahwa pengguna dilindungi dari malware, penjahat dunia maya, dan scammer.

Selain itu, agar si buah hati tetap aman, aplikasi untuk anak-anak juga harus memenuhi pedoman tertentu dan harus terintegrasi dengan fitur kontrol orang tua iOS.

Karenanya jika sideload diizinkan, Apple khawatir pengguna akan mengunduh aplikasi bajakan yang bakal menyebabkan pengembang kehilangan uang. Selain itu, pengguna berpotensi terkena ransomware potensial di mana pengguna terancam kehilangan data mereka.

Dalam dokumen tersebut disertakan penelitian bahwa Android terinfeksi aplikasi malware 15 kali lebih banyak ketimbang iPhone. Ini karena aplikasi Android dapat diunduh dari mana saja.

AppleDokumen yang dirilis Apple terkait sideload aplikasi. Foto: dok Apple

Menurut penelitian tersebut, lantaran menjadi sistem terbuka membuat pengguna Android tidak hanya dapat mengunduh aplikasi dari Google Play Store. Ada toko aplikasi lain yang ditawarkan oleh berbagai platform yang mungkin memiliki proses peninjauan yang kurang ketat.

Selain itu, pengguna dapat dengan mudah melakukan sideload file APK apa pun yang dapat diunduh dari situs web mana pun yang belum diverifikasi atau dibagikan oleh orang asing melalui platform perpesanan instan.

Tak hanya memberikan contoh skenario potensial di mana sideloading dapat merugikan pengguna iPhone, Apple telah memberikan beberapa kasus tentang bagaimana perlindungan aplikasi yang mereka terapkan telah membantu melindungi konsumen. Ini termasuk memblokir lebih dari USD 1,5 miliar dalam potensi transaksi penipuan, menolak dan menghapus hampir 1 juta aplikasi bermasalah, dan menonaktifkan 244 juta akun pelanggan karena penipuan dan berbagai pelanggaran termasuk memposting ulasan palsu.

Dokumen lengkap yang dirilis Apple dapat di baca di sini.

Sebelumnya CEO Apple Tim Cook dalam sebuah konferensi virtual bernama VivaTech menyatakan kalau Android mempunyai malware atau program jahat seperti virus 47 kali lebih banyak dibanding iOS.

Tak sekadar mengklaim, Cook pun menjelaskan kenapa hal tersebut bisa terjadi, tentunya dengan mempromosikan sistem operasi buatan Apple tersebut. Menurutnya, semua aplikasi yang masuk ke App Store untuk iOS sudah diuji oleh Apple.

"Karena kami mendesain iOS sedemikian rupa sehingga hanya ada satu App Store, dan semua aplikasinya diuji sebelum bisa masuk ke dalam toko," ujar Cook.

Tentunya Cook tak cuma mempromosikan keamanan dari malware, melainkan juga mempromosikan privasi Apple. Termasuk membanggakan pendahulunya, mantan bosnya, almarhum Steve Jobs.

"Kami sudah berfokus pada privasi selama beberapa dekade. Steve (Jobs) biasanya mengatakan kalau privasi adalah dengan menjelaskan dengan bahasa biasa apa yang dihadapi oleh pengguna dan mendapat izin mereka," ujar Cook.



Simak Video "iPhone 13 Diejek Samsung"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/fay)