5 Faktor Penyebab Kehancuran Tragis BlackBerry

5 Faktor Penyebab Kehancuran Tragis BlackBerry

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 22 Apr 2021 03:20 WIB
Seorang model menunjukkan Blackberry Classic saat peluncuran di Jakarta, Rabu (25/3/2015). Blackberry ini menggunakan jaringan 4G LTE dijual dengan harga Rp 5.599.000.
BlackBerry Classic. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ponsel BlackBerry anyar akan meluncur pada tahun ini. Sepertinya menarik untuk kembali mengingat bagaimana merek yang dulu amat populer itu runtuh secara tragis.

Faktor apa saja yang menyebabkan kejatuhan mereka? Berikut kilas baliknya seperti dihimpun detikINET dari berbagai sumber, Kamis (22/4/2021):

1. Meremehkan iPhone

Di masa keemasan tahun 2008, BlackBerry yang dulu bernama Research in Motion (RIM) bernilai USD 84 miliar. Produk-produknya pun digemari banyak orang. Saking jayanya, Mike Lazaridis dan Jim Balsillie, CEO BlackBerry kala itu, meremehkan kedatangan Apple iPhone yang diperkenalkan Steve Jobs di tahun 2007.

Keduanya menilai iPhone seperti ponsel mainan. Baterai lemah, keyboard sentuh iPhone susah pula dipakai dibanding keyboard fisik BlackBerry. "Sebagus apapun iPhone, ia menghadirkan kesulitan bagi pengguna. Cobalah mengetik di layar sentuh iPhone, itu kesulitan nyata," kata Balsillie.

"Ini bukan ancaman bagi bisnis inti RIM. iPhone tidak aman, baterainya cepat habis dan keyboard digitalnya susah," ucap Larry Conlee, penasihat Lazaridis.

iPhone memang banyak diremehkan di awal kelahirannya. Baterai hanya tahan delapan jam, koneksi cuma 2G. Seharusnya produk itu gagal, tapi ternyata tidak. "Dengan semua faktor itu seharusnya iPhone gagal, tapi nyatanya tidak demikian," kata David Yach, Chief Technology Officer RIM.

Ternyata orang tetap membeli iPhone, salah satunya karena desain yang bagus. "Saya belajar bahwa keindahan desain itu berarti. Orang mau membeli produk ini," tambah Yatch. Tiga bulan pertama penjualannya, iPhone sudah laku lebih dari sejuta unit.

2. Kegagalan BlackBerry Layar Sentuh

Mengantisipasi ancaman iPhone yang tak diduga laris manis, RIM memutuskan merilis BlackBerry Storm yang navigasinya layar sentuh. Awalnya produk ini laku karena nama BlackBerry masih tenar dan ditunjang marketing besar. Tapi teknisi RIM tahu kalau Storm bukan produk yang matang.

Browsernya lambat, layar sentuhnya susah digunakan dan kerap hang. Banyak konsumen tak jadi membelinya. Akhirnya Storm dipandang produk gagal. Banyak yang rusak dan harus diganti sehingga menimbulkan kerugian tak hanya bagi RIM tapi operator yang memasarkannya.

Untuk pertama kali setelah sukses luar biasa di hampir semua ponselnya, RIM punya produk gagal. Banyak pihak mulai bertanya-tanya apakah BlackBerry mampu bersaing dengan iPhone. "Semua orang kecewa karena kegagalan Storm. Semangat di perusahaan jadi turun," kata COO RIM, Don Morisson.

Tapi Lazaridis bersikeras kalau Storm bukanlah kegagalan. Baginya, Storm adalah percobaan pertama RIM menggunakan teknologi baru. Ia mengambil sisi positif Storm seperti kameranya lumayan, speaker bagus dan baterai bisa diganti.

Lazaridis menilai Storm harus menjadi lebih baik. Maka Storm 2 pun dirilis. Tapi lagi-lagi sayangnya, penjualannya tak sesuai harapan. BlackBerry pun mulai kebingungan.

Halaman selanjutnya: gagal membendung Android