Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Perjalanan Tercepat Manusia yang Pernah Tercatat, 39.937 Km/Jam

Perjalanan Tercepat Manusia yang Pernah Tercatat, 39.937 Km/Jam


Aisyah Kamaliah - detikInet

Rumus cepat rambat gelombang.
Foto: Pawel Czerwinski/Unsplash
Jakarta -

Kecepatan tertinggi yang pernah dicapai manusia adalah 39.937,7 kilometer per jam. Rekor ini dicapai pada 26 Mei 1969.

Rekor tersebut bukan dicapai oleh awak Apollo 11 saat mereka menuju atau dari pendaratan bersejarah mereka di Bulan, tetapi selama latihan persiapan dua bulan sebelumnya. Apollo 10, misi berawak keempat dari program pendaratan di Bulan NASA, bertujuan untuk menguji semua prosedur dan peralatan untuk pendaratan di Bulan, selain bagian pendaratan.

Astronaut Thomas Stafford, John Young, dan Eugene Cernan meninggalkan Bumi pada 18 Mei 1969. Tiba di orbit bulan tiga hari kemudian, Stafford dan Cernan memasuki Modul Bulan, yang dijuluki Snoopy, dan turun hingga sekitar 14,4 kilometer. Young tetap berada di orbit sekitar 97 kilometer di atas permukaan bulan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Meskipun sempat terjadi goyangan singkat (akibat pengaturan sakelar yang salah di Modul Bulan), awak tersebut mampu kembali ke Modul Komando, yang dijuluki Charlie Brown. Setelah melakukan perjalanan mengelilingi Bulan dan menyaksikan terbitnya Bumi, awak kembali ke Bumi.

Dalam perjalanan pulang saat memasuki kembali atmosfer Bumi, sekitar 121,9 km dari Bumi, awak mencetak rekor penerbangan luar angkasa manusia tercepat. Mereka melesat mencapai kecepatan tertinggi 1.093,8 meter per detik. Cernan menggambarkan proses memasuki kembali atmosfer Bumi seperti berada di dalam 'bola api putih dan ungu'.

Rekor yang dicetak oleh Apollo 10 belum terpecahkan sejak itu. Sampai sekarang, penerbangan luar angkasa manusia tercepat tetap di angka 39.937,7 kilometer per jam. Pesawat ruang angkasa tersebut menggunakan atmosfer Bumi untuk memperlambat penurunan, serta mengerahkan tiga parasut besar, sebelum mendarat di Samudra Pasifik. Demikian melansir IFLScience, Sabtu (1/8/2026).



(ask/fay)






Hide Ads