Selasa, 21 Mei 2019 19:03 WIB

Menerka Nasib Huawei jika Tak Lagi Pakai Android

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Google.com Foto: Google.com
Jakarta - Pembatasan akses Android untuk Huawei bisa dibilang sebagai momen paling dramatis mereka dalam sejarah Android.

Huawei adalah pabrikan ponsel paling besar di China, dengan pertumbuhan double digit selama 2019 ini, dan sejatinya digadang-gadang jadi punya peluang menyalip Samsung sebagai pabrikan ponsel terbesar dunia. Tapi tanpa dukungan Android hal itu sulit terjadi..

Penyetopan perjanjian lisensi dengan Google membuat Huawei tak bisa lagi menghadirkan Google Play Services dan akses ke Google Play Store ke ponsel Android buatannya. Huawei tampaknya dipaksa menggunakan Android dari Android Open Source Project (AOSP).




Masalahnya, Google sendiri belakangan sudah mulai menyunat komponen penting Android dari AOSP, seperti Google Maps, YouTube, dan yang paling penting adalah ekosistem penuh dari aplikasi Android buatan pihak ketiga, yang sangat bergantung pada lisensi dari Google.

Jadi, secanggih apa pun ponsel yang Huawei buat, memasarkan perangkat tersebut akan sulit untuk dilakukan karena tidak adanya ekosistem yang mendukung ponsel tersebut secara luas.

Menjual ponsel tanpa ekosistem pendukung sudah terbukti menjadi hal yang amat sangat menantang. Contohnya sudah banyak, seperti Windows Phone, Palm OS, MeeGo, Symbian, Bada -- yang kemudian berubah menjadi Tizen, dan BlackBerry OS.




Sistem operasi tanpa ekosistem aplikasi pihak ketiga jelas tak bisa bersaing dengan duopoli OS yang ada di pasaran saat ini, Android dan iOS, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Selasa (21/5/2019).

Di negara asalnya, ponsel-ponsel Huawei memang tetap bisa laku terjual meski tanpa Play Store -- yang memang diblokir. Tapi secara umum Huawei juga bakal kalah dari para pesaing karena mereka pun tak bisa mengakses Android terbaru dan harus menunggu AOSP tersedia untuk publik.




Bahkan, jika nantinya Huawei pun menggunakan OS buatannya sendiri, yang konon sudah dikembangkan sejak lama, pabrikan asal China itu bisa jadi masih harus menghadapi tantangan besar dalam mengumpulkan developer untuk membuat aplikasi di OS-nya itu.

Skenario terbaik dari masalah ini adalah saat pemerintah AS dan China memutuskan untuk mengakhiri perang dagang antara keduanya ini, dan pemerintah AS mau memberikan "pengampunan" bagi Huawei.

Pasalnya, hubungan antara Google dan Huawei bisa dibilang adalah simbiosis mutualisme, alias saling menguntungkan dan saling membutuhkan. Huawei butuh dukungan Android, dan Google pun butuh inovasi dari Huawei serta penetrasi mereka di sejumlah pasar.


(asj/krs)