Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Gulungan Papirus Mesir 3.300 Tahun Ungkap Jejak 'Raksasa' yang Disebut Alkitab

Gulungan Papirus Mesir 3.300 Tahun Ungkap Jejak 'Raksasa' yang Disebut Alkitab


Rachmatunnisa - detikInet

Manuskrip
Gulungan papirus berusia 3.300 tahun. Foto: British Museum
Jakarta -

Sebuah gulungan papirus Mesir kuno yang berusia sekitar 3.300 tahun kembali menarik perhatian para arkeolog dan sejarawan kitab suci, karena mengandung deskripsi tentang sosok manusia bertubuh sangat tinggi. Beberapa peneliti mengaitkan deskripsi ini dengan figur raksasa yang disebut dalam Alkitab.

Manuskrip yang dikenal sebagai Papirus Anastasi I tersebut saat ini tersimpan di British Museum dan sedang dianalisis ulang oleh sejumlah pakar. Papirus Anastasi I diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-13 SM, dan dijadikan sebagai dokumen latihan bagi para juru tulis kerajaan.

Dalam salah satu bagian teksnya, disebutkan deskripsi tentang pasukan nomaden Shasu yang digambarkan memiliki tinggi sekitar dua sampai 2,6 meter, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata manusia pada masa itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beberapa dari mereka berukuran empat atau lima hasta dari kepala sampai kaki, wajah mereka garang, hati mereka tidak lembut, dan mereka tidak mendengarkan bujukan," demikian bunyi cuplikan deskripsi papirus tersebut, seperti dikutip dari The Daily Galaxy.

Berdasarkan ukuran Mesir kuno, tinggi tersebut setara antara 2,1 sampai 2,6 meter. Menurut Dr. Michael Heiser, pakar bahasa Semitik dan teologi Alkitab yang dikutip dalam beberapa analisis akademik dan diskusi arkeologi, referensi semacam itu mungkin mencerminkan persepsi sejarah tentang orang berpostur tinggi, tetapi bukan bukti langsung tentang entitas supranatural.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan bahwa dalam literatur Alkitab terdapat gambaran figur-figur seperti Nephilim, istilah yang dalam beberapa terjemahan merujuk pada 'raksasa' atau 'yang jatuh', namun konteksnya bisa bersifat simbolis atau metaforis dalam tradisi penulisan lama.

Penafsiran terhadap Papirus Anastasi I dipicu oleh kecocokan narasi itu dengan kisah-kisah dari Kitab Bilangan (Numbers 13:33) dan Ulangan dalam Alkitab Ibrani yang menceritakan tentang suku besar seperti Anakim. Namun banyak ahli arkeologi tetap berhati-hati menafsirkan teks tersebut sebagai dokumen sastra atau militer edukatif, bukan catatan sejarah raksasa secara faktual.

Dalam konteks sejarah, meskipun deskripsi tinggi tubuh di luar rata-rata pasti menarik, belum pernah ditemukan bukti fisik seperti kerangka manusia setinggi itu yang sepenuhnya diverifikasi secara arkeologis di Levant atau Mesir kuno.

Sumber akademis menyatakan bahwa narasi tentang Nephilim, raksasa, atau sosok luar biasa tinggi sering kali mencerminkan tradisi lisan dan simbolis, bukan bukti ilmiah tentang keberadaan entitas supranatural.

Tetapi bagi sebagian kalangan peneliti kitab suci dan arkeolog yang meneliti Papirus Anastasi I secara lebih teliti, teks ini kembali membuka diskusi tentang bagaimana manusia kuno menggambarkan lawan yang kuat atau berbeda secara fisik dalam konteks konflik, legenda, atau ekspansi budaya, sehingga tidak bisa langsung disimpulkan sebagai bukti nyata keberadaan 'raksasa' seperti yang digambarkan di Alkitab.




(rns/rns)






Hide Ads