Mereplikasi Diri Kini juga Dilakukan Robot
- detikInet
Jakarta -
Robot buatan Cornell University, Amerika Serikat ini berbentuk sederhana. Satu robot terdiri dari tiga atau empat kubus yang bertumpuk. Kekuatan robot terletak di masing-masing kubus, yang setengah bagiannya bisa berputar pada diagonalnya. Masing-masing kubus dengan panjang rusuk 4 inci (10,16 cm) ini, ternyata dilengkapi program komputer yang berisi penjelasan mengenai susunan robot. Selain itu, di dalamnya juga disertakan tenaga listrik yang memungkinkannya berkomunikasi dengan kubus-kubus yang ada di dekatnya, dan magnet untuk menautkan satu kubus dengan lainnya.Gerakan dasar yang harus dikuasai robot kubus ini adalah berputar dan bergeser. Kubus-kubus ini bisa memilih kubus lain, memutuskan dimana posisi mereka nantinya, dan merekatkannya hingga tersusun menyerupai dirinya.Robot-robot ini bisa memperbaiki diri jika rusak, mengkonfigurasi ulang dirinya untuk bisa melakukan tugas yang telah dijatahkan, bahkan melakukan pekerjaan tambahan.Mekanisme ReplikasiCnet News.com memaparkan bagaimana robot ini mereplikasi diri. Sebuah robot yang terdiri dari empat kubus bertumpuk, bisa bereplikasi dalam waktu 2,5 menit. Langkah awalnya, robot harus melepas satu kubus pada salah satu ujungnya. Kubus yang dilepas itu akan menjadi cikal bakal dari robot baru hasil replikasi. Ketiga kubus yang tersisa ini lalu mengambil kubus-kubus tambahan yang disediakan di feeding station, untuk membuat robot baru. Ketiga kubus akan bergerak menempelkan dirinya dengan kubus tambahan, lalu mengaturnya hingga menjadi robot baru yang berbentuk sama dan terdiri dari empat kubus.Rencana jangka panjang yang melandasi pembuatan robot ini adalah untuk membuat robot-robot yang terdiri dari ratusan atau ribuan kubus.Tim peneliti dari Cornell University ini terdiri dari tiga orang, Hod Lipson, Bryant Adams dan Victor Zykov. Para ilmuwan ini akan menyiapkan robot hasil karya mereka untuk menjadi aplikasi ruang angkasa."Kami sedang memikirkan untuk menjadikannya sebagai aplikasi ruang angkasa," kata Hod Lipson, ketua tim. "Kalau ada robot yang dikirim ke salah satu bulan milik Jupiter, lalu robot itu rusak, maka misi akan berakhir. Jadi perlu ada robot yang mampu beradaptasi atau memperbaiki diri dari jarak jauh," paparnya.
(wicak/)