Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Termasuk Oleh Intel, Microsoft dan IBM
AS Didesak Segera ke TV Digital
Termasuk Oleh Intel, Microsoft dan IBM

AS Didesak Segera ke TV Digital


- detikInet

Jakarta - Sejumlah raksasa teknologi seperti Dell, Cisco, IBM, Intel, Microsoft dan Qualcomm, berkoalisi desak pemerintah AS untuk segera tetapkan tanggal transisi penyiaran sinyal TV menuju era digital.Koalisi itu berargumen, banyak frekuensi penyiaran yang saat ini masih kosong. "Sebanyak 700 megahertz frekuensi penyiaran telah terpakai. Dan masih ada 88 megahertz frekuensi kosong," tutur Direktur Eksekutif koalisi itu, Janice Obuchhowski, seperti dilansir Associated Press, dan dikutip detikinet Kamis (28/4/2005).Frekuensi yang masih kosong itu memungkinkan untuk termanfaatkan jika sinyal televisi analog beralih menjadi digital dalam penyiarannya. Bahkan diramalkan, pemerintah AS akan meraup pendapatan sebesar US$20 milyar hingga US$30 milyar (Rp 191 trilyun hingga Rp 286 trilyun) jika pihaknya melelang frekuensi itu ke pada pihak swasta.Keuntungan dari teknologi TV digital ini adalah kemampuannya untuk menjangkau daerah pinggiran dengan biaya murah. Selain itu, akan memudahkan penyebaran informasi darurat secara cepat kepada khalayak ramai.Sejarah Tersandung Syarat?Perubahan ke siaran digital dianggap akan menjadi momen bersejarah bagi AS. Sedianya pergantian sinyal tersebut akan ditetapkan tanggal 31 Desember 2006. Tapi ada syaratnya. Sebanyak 85 persen rumah tangga AS harus sudah mampu mengakses siaran TV Digital. Ada dua cara agar teknologi ini dapat dinikmati rumah tangga. Pertama, pengguna bisa menggunakan perangkat khusus TV digital. Atau, mereka bisa menggunakan TV biasa yang dilengkapi dengan 'kotak pengubah sinyal'.Koalisi ini mendesak agar syarat itu dihapuskan. Mereka mendukung upaya senator Joe Barton yang ingin menghapuskan syarat tersebut. Walaupun begitu, segala sesuatu pasti ada sisi jeleknya. Pengakhiran masa bagi era TV analog yang terlalu dini, akan membawa dampak buruk bagi rakyat Amerika dan dunia secara tidak langsung.Bayangkan jika peralihan itu dipaksakan dan berakibat matinya banyak pesawat televisi di AS yang belum siap untuk menerima siaran TV digital. Amerika sendiri sepertinya belum siap untuk kehilangan 'gambar' pada pesawat TV mereka yang lama jika momen transisi itu benar-benar terjadi. Sementara untuk negara-negara lain apakah mereka mampu untuk mengikuti kemajuan teknologi negara adidaya ini? Buat Amerika -- yang sudah mengirim orang ke bulan bahkan sekarang sedang merencanakan ekspedisi ke Mars-- beli 'kotak pengubah sinyal' saja sih tidak masalah. Tapi buat orang Indonesia? (wicak/)






Hide Ads
LIVE