Permintaan terhadap iPhone 6S dan 6S Plus dikabarkan menurun, tidak selaku dulu. Menurut media ekonomi Jepang, Nikkei, hal itu memaksa Apple memangkas jumlah produksi sampai 30% untuk kuartal 1 tahun ini.
Dikutip detikINET dari Reuters, stok iPhone 6S dan juga 6S Plus dilaporkan menumpuk sejak peluncurannya September lalu. Sehingga produksi diturunkan agar peritel bisa menjual dulu stok yang masih ada.
Kabar kurang mengenakkan itu membuat harga saham Apple turun 2,2% menjadi USD 102,97. Saham Apple sudah berulangkali turun sejak mencapai rekor tertinggi April lalu, terutama karena kabar melemahnya penjualan iPhone.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nikkei, produksi iPhone terbaru akan kembali ditingkatkan pada kuartal kedua tahun ini. Namun ada analis yang tidak percaya dengan kabar pelemahan penjualan iPhone ini. Demikian juga Apple menolak untuk berkomentar.
"Apple memperoleh tambahan market share yang signifikan di hampir semua wilayah dan saya tidak melihat adanya perlambatan penjualan secara global," ucap Patrick Moorhead, analis industri di Moor Insights & Strategy.
Namun ketatnya persaingan mungkin saja memang membuat Apple kewalahan. Untuk tahun fiskal 2016, Apple diprediksi naik pendapatannya hanya sekitar 4%. Jauh dari kenaikan pendapatan 28% yang dicapainya di tahun fiskal lalu.
(fyk/ash)