Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Review Produk
OnePlus One: Ponsel Oprekan yang Gahar
Review Produk

OnePlus One: Ponsel Oprekan yang Gahar


- detikInet

Jakarta -

Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar, bukan rahasia lagi jika Indonesia jadi lahan basah bagi para vendor ponsel untuk mengeruk keuntungan, termasuk pemain baru yang satu ini.

Adalah OnePlus, vendor ponsel asal Tiongkok yang baru-baru ini namanya mencuat ke permukaan. Melalui situs belanja online Lazada, OnePlus mencoba peruntungannya di pasar gadget Indonesia yang sudah penuh sesak dengan merilis ponsel pintar OnePlus One terhitung sejak 27 Januari 2015 lalu. Oleh situs tersebut, perangkat ini dibanderol dengan harga Rp 4.499.000.

Ya, OnePlus memang pocin alias ponsel asal China. Lantas apa bedanya dengan yang lain? Bagi sebagian orang -- khususnya mereka yang fans berat Android -- mungkin merek OnePlus bukan barang asing lagi. Dalam pengoperasiannya, ponsel OnePlus menggunakan sistem operasi Android yang sudah dimodifikasi, yakni CyanogenMod.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya unik di urusan software, di sektor jeroan pun ponsel ini patut diacungi jempol karena punya sederet daftar spesifikasi yang mumpuni dengan harga yang kompetitif dengan ponsel sekelasnya.

DetikINET pun mendapat kesempatan untuk menjajal kemampuan OnePlus One. Penasaran seperti apa kinerja dari ponsel dengan bentang layar 5,5 inch ini? Simak review berikut.

Tekstur Batu Pasir

Tidak ada kesan wah ketika pertama kali menerima ponsel ini. Secara kasat mata, OnePlus One tampil bongsor dengan bentang layar 5,5 inch. Bentuknya juga tidak bisa dibilang unik. Ponsel ini memiliki bentuk persegi panjang dengan ujung atas dan bawah yang dibuat oval dan bezel perak yang mengitarinya.

Untuk ukuran tangan orang Indonesia, layar 5,5 inch memang cukup merepotkan, baik ketika digenggam maupun ketika mengoperasikan hanya dengan satu tangan. Belum lagi ketebalan OnePlus One yang mencapai 8,9 mm dengan bodi belakang yang melengkung, sehingga membuat ponsel ini terasa gemuk ketika digenggam dan tebal ketika dikantongi.

Pun punya bodi yang bongsor, untungnya tampilan depan dari perangkat ini bisa dibilang ringkas. Tidak ada tombol fisik satupun yang hinggap di bagian depan. Semuanya full layar.

OnePlus menempatkan tombol-tombol operasional back, home, dan multitasking secara on screen (di dalam layar). Sedangkan untuk tombol fisik pengguna bisa menemukannya di bagian samping kiri (volume up/down) dan kanan (power dan lockscreen).

Yang menjadi daya tarik dari ponsel ini adalah cover belakangnya. Ya, OnePlus menyematkan cover belakang bertekstur sandstone (batu pasir). Entah bahan material apa yang dipakai oleh OnePlus, tapi yang jelas hal itu terbilang cukup unik, karena bila dirasakan dengan tangan sepintas bahan material tersebut mirip dengan amplas halus. Sayangnya, tekstur sandstone ini mudah sekali tergores dan menimbulkan bekas.



Eits, tapi jangan khawatir, bekas goresan ringan yang ditimbulkan bisa dengan mudah hilang dalam beberapa menit. Ada kekurangan, tentu ada pula kelebihannya. Sebab dengan mengusung tekstur sandstone pada permukaan belakang, perangkat jadi tidak licin dan solid ketika digenggam.

Tak hanya itu, tekstur sandstone ternyata mampu meredam panas yang ditimbulkan oleh kinerja dari prosesor smartphone itu sendiri. Walaupun masih terasa hangat, tetapi tidak seperti ponsel pada umumnya.

Di bagian belakang pengguna hanya akan menemukan kamera 13 megapixel dan LED Flash yang diletakkan di sisi tengah sebelah atas dengan logo OnePlus dan Cyanogen di bawahnya.

OnePlus One mengusung konsep unibodi. Ini artinya pengguna tidak akan bisa mencopot baterai dari cangkangnya. Maka dari itu, OnePlus menempatkan slot kartu SIM yang terletak di sisi kiri bodi, berdekatan dengan tombol volume.

Terakhir yang menonjol di sisi desain adalah hadirnya bezel berwarna silver yang mengitari pinggir layar. Bila dibandingkan dengan ponsel lain yang pernah kami review, bezel OnePlus One cukup kokoh dan tak mudah tergores.

OS Modifikasi

Secara default, OnePlus One berjalan di atas sistem operasi Android 4.4.4 KitKat yang sudah dimodifikasi menggunakan Cyanogen versi 11. Maka dari itu, user interface-nya adalah bawaan dari Cyanogen, dimana tampilan dari ikon-ikon berbentuk kotak.

Meski demikian, karena ini menggunakan sistem operasi modifikasi, pengguna dapat dengan mudah mengubah tema atau user interface. Guna mempermudah, OnePlus menyediakan aplikasi Theme Showcase, dimana aplikasi tersebut menyediakan beragam user interface dari beberapa developer.

Adapun user interface yang yang dapat dipilih oleh pengguna, mulai dari Android Lollipop hingga user interface yang dipakai oleh beberapa merk smartphone, semisal LG Optimus G2 dan Samsung Galaxy S5. Pun kebanyakan dari user interface memiliki label harga yang bervariatif, tapi ada juga yang diganjar gratis oleh sang developer.

Masuk di menu setting, pengguna akan menemukan beragam opsi yang tak ditemukan di sistem operasi Android biasa, mulai dari notification drawer, pengaturan tema, status bar, hingga jalan pintas gestur. Untuk gestur, pengguna hanya diberi tiga opsi, yakni kamera, musik, dan flashlight.

Selain itu ada juga opsi button. Pada opsi ini pengguna bisa mengaktifkan atau mematikan fitur tombol navigasi on-screen. Ya, OnePlus One memang punya dua pilihan tombol navigasi, yakni di bawah layar dan on-screen. Kami pribadi menyukai tombol navigasi on-screen hanya ketika menggunakan user interface Lollipop, karena bentuknya yang menyerupai tombol controller PlayStation.

Keren memang, pengguna bisa menggunakan beragam bentuk tombol navigasi on-screen sesuai dengan ciri khas masing-masing user interface. Namun untuk beberapa aplikasi seperti Path misalnya, tombol tersebut bersitegang dengan tombol navigasi dalam menu home Path itu sendiri. Alhasil, sebagai pengguna rutin Path kami pun kerap terganggu dengan hadirnya tombol navigasi on-screen itu.

User interface yang bisa diubah, menu opsi yang beragam, lantas apakah ponsel ini aman-aman saja? Tentu tidak. Sebagai ponsel yang menganut sistem operasi Android modifikasi, OnePlus One tidak bisa dikatakan aman dari yang namanya bug. Selama kurang lebih tiga minggu pemakaian, berbagai macam bug pun kerap kami temui.

Adapun beberapa bug yang kami temui ketika mengoperasikan ponsel ini, di antaranya adalah koneksi WiFi yang kerap terputus dan tak mau tersambung lagi, bahkan kerap tak terbaca. Tak hanya itu, sebelum meng-update software dari Cyanogen dari versi 11 ke 12 kami kerap menemukan hang pada layar lockscreen. Kalau sudah begitu, mau tak mau harus dilakukan hard restart.

Asyik untuk <i>Ngegame</i>

Yang menarik dari tampang depan OnePlus One mungkin ukuran layarnya yang besar sehingga enak untuk menonton video atau bermain game. Ya, ponsel ini mengusung panel layar kapasitif LTPS LCD 5,5 inch dengan resolusi 1920 x 1080 pixel.

Dengan kerapatan pixel ada pada 401 ppi, gambar yang dihasilkan pun cukup tajam dan memuaskan. Saturasi warna serta kontras yang lebih baik menjadikan gambar terlihat lebih jernih dan efeknya sangat terasa ketika perangkat ini dipakai untuk menonton video dan bermain game. Sudut pandang yang luas dan apik pun jadi nilai tambah untuk OnePlus One digunakan untuk bermultimedia.

Tingkat kecerahan dapat diatur dengan mudah melalui drawer. Bagi yang tak mau repot-repot mengatur tingkat kecerahan, opsi auto pun dirasa sudah cukup membantuk pengguna ketika mengoperasikan ponsel di segala kondisi ruangan dan cuaca.

Tak hanya tajam dan cerah, layar OnePlus One sudah dilengkapi dengan lapisan pelindung Corning Gorilla Glass 3, sehingga pengguna tak perlu khawatir terhadap goresan maupun bantingan. Ya, ini terbukti ketika unit yang kami pegang tak sengaja terjatuh ke lantai.

Di bawah terik matahari, pengguna masih dapat mengoperasikan ponsel ini dengan nyaman, asal mengaturnya ke pengaturan auto atau pengaturan maksimal. Meski demikian, pengaturan auto tidak berlaku ketika berada di dalam ruangan yang gelap. Meski sudah diatur ke auto namun pada kenyataannya layar OnePlus One masih terasa cukup menyilaukan mata.

Spek Gahar

Boleh diakui bahwa jeroan yang diusung oleh OnePlus One patut diacungi jempol. Pasalnya dengan harga kompetitif, ia menghadirkan daftar spesifikasi yang sangat mumpuni.

Lihat saja prosesor Qualcomm Snapdragon 801 yang ditanamkan oleh OnePlus. Prosesor yang tergolong masih baru ini memiliki performa yang tergolong kencang dan banyak menjadi andalan di setiap ponsel-ponsel kelas premium. Chipset tersebut memiliki kecepatan clock yang tinggi, yakni quad core 2,5 Ghz Krait 400.

Prosesor berkecepatan tinggi tadi semakin ciamik dengan dukungan RAM sebesar 3 GB dan pengolahan grafis oleh GPU Adreno 330. Bagi yang gemar menginstal aplikasi dan meyimpan data yang cukup besar, OnePlus One jadi pilihan yang tepat. Pasalnya, meski tidak dibekali dengan slot microSD, namun memori internalnya dibekali kapasitas yang besar, 64 GB.

Nah, dengan daftar spesifikasi yang sekelas dengan ponsel-posel premium pada umumnya, OnePlus One dibanderol dengan harga yang Rp 4.499.000.

Lantas bagaimana performanya? Tak mengecewakan! Kami mengetesnya untuk bermain berbagai macam game, mulai dari yang ringan sampai game berat sekalipun. Didukung layar yang cukup luas, OnePlus One cocok digunakan bagi pengguna yang gemar ngegame.

Untuk lebih mengetahui kemampuan OnePlus One lebih detil lagi, kami pun menguji perangkat ini dengan dua aplikasi benchmark, yakni AnTuTu dan Geekbench 3 yang tersedia di Google Play Store. Hasilnya memuaskan.

Dalam hasil uji AnTuTu, perangkat yang kami uji menghasilkan skor 46.648. Dengan hasil skor demikian, OnePlus One menduduki peringkat ketiga, satu peringkat di bawah Galaxy Note 4. Namun, perangkat ini berhasil melampaui Xiamoi MI 3, Galaxy S5, bahkan HTC One M8 sekalipun.

Sementara untuk hasil uji di Geekbench 3, perangkat ini menorehkan skor 942 untuk single-core dan 2.332 untuk multi-core. Skor 942 single-core lagi-lagi berhasil mengungguli Galaxy S5 hingga Nexus 5 sekalipun. Sementara untuk hasil multi-core perangkat ini hanya tertinggal beberapa angka dengan perangkat serupa.

Terakhir yang ingin dibahas di segmen ini mungkin adalah baterai. Ya, baterai perangkat ini sangat memuaskan. Dengan besaran kapasitas baterai 3.100 mAh, OnePlus One sanggup bertahan seharian beraktivitas. Namun jika digunakan untuk bermain game penuh, baterai ponsel ini mungkin hanya sanggup bertahan sekitar 4 hingga 5 jam.

Kamera

Di sektor kamera, pengguna akan disajikan oleh kamera berlensa 13 MP yang didukung dengan sensor BSI (Back Side Illuminated). Sebagaimana yang diketahui, sensor ini mampu membantu pengguna untuk melakukan pengambilan gambar di kondisi minim cahaya sekalipun.

Itu teorinya. Namun, ketika pada praktiknya kami sering menemukan hasil foto yang kurang maksimal ketika sedang berada di dalam kondisi cahaya yang minim.

Tak adanya stabilization juga kerap membuat hasil gambar terlihat blur. Pun begitu, Dual LED yang disematkan cukup membantu pengguna untuk mengambil gambar lebih terang lagi ketika gelap, itu pun jangkauannya tidak luas.

Antar muka yang ditawarkan oleh kamera ini terlihat simpel. Tak banyak menu opsi yang tertera di tampilan awal. Sama seperti ponsel pada umumnya, resolusi 13 MP hanya bisa dipakai jika pengguna mengubah ukuran rasio foto menjadi 4:3, sedangkan untuk rasio 16:9 resolusinya hanya 9,7 MP.

Ada beragam fitur yang ditawarkan, mulai dari auto, HDR, smart scene, clear image, beauty mode, hingga sephia. Sayangnya ketika melakukan pengambilan gambar menggunakan HDR atau smart scene, pengguna harus menunggu sekitar 5 detik dan harus dalam keadaan steady agar gambar yang dihasilkan tidak kabur.

Pada kamera depan, OnePlus One memiliki kamera dengan resolusi 5 MP. Resolusi tersebut hanya dapat digunakan untuk rasio 4:3, sedangkan untuk menggunakan rasio 16:9 pengguna hanya bisa memakai resolusi 2,1 MP. Untuk selfie, jepretan kamera 5 MP terbilang standar. Berikut hasil jepretan OnePlus One:

Kesimpulan

Secara keseluruhan perangkat ini memiliki performa oke. Harga yang murah dibanding kompetitor sekelasnya menjadi nilai tambah bagi OnePlus One. Jelas harga Rp 4 jutaan jadi pilihan yang tepat bagi pengguna yang menginginkan ponsel terjangkau dengan performa tinggi.

Meski dalam praktiknya hardware tidak mengalami kendala sekalipun, namun software lah yang jadi kendala. Beberapa bug kerap muncul selama pemakaian ponsel ini. Maklum, sistem operasi yang dipakai menggunakan Android modifikasi. Tapi, di balik kekurangan pasti ada pula kelebihan.

Ponsel ini sangat cocok digunakan bagi konsumen yang punya hobi ngoprek. Banyak opsi yang ditawarkan untuk diutak-atik. DetikINET pun mendapat informasi langsung dari bos OnePlus, yang mengatakan jika OnePlus menghalalkan perangkatnya menjadi bahan oprekan penggunanya tanpa mengilangkan garansi perangkat itu sendiri.

Sektor kamera mungkin juga jadi salah satu kekurangan dari perangkat ini. Pun begitu, meski kerap mengalami blur ketika mengambil gambar di kondisi minim cahaya, namun ketika berada di luar ruangan hasilnya pun terlihat cukup memuaskan. Baterainya pun cukup awet bagi pengguna aktif.

(ash/ash)







Hide Ads