Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pendapatan Pembuat ChatGPT Meroket, Tapi Tetap Tekor

Pendapatan Pembuat ChatGPT Meroket, Tapi Tetap Tekor


Anggoro Suryo - detikInet

OpenAI
Foto: GSM Arena
Jakarta -

Ledakan tren Kecerdasan Buatan (AI) membawa OpenAI ke puncak kejayaan, namun di balik layar, perusahaan pembuat ChatGPT ini sedang berdarah-darah menanggung biaya operasional yang luar biasa masif.

Berdasarkan dokumen keuangan yang bocor dan diperoleh oleh jurnalis independen Ed Zitron, OpenAI saat ini tengah menghadapi dilema mendasar: skala teknologinya berkembang sangat pesat, tetapi biaya untuk membangun dan menjalankannya melambung jauh lebih tinggi.

Dokumen yang muncul menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) ini mengungkap sebuah realitas pahit di industri AI modern: pendapatan miliaran dolar ternyata belum cukup untuk menutup biaya teknologi yang meroket tajam, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (18/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

1. Pendapatan Melesat, Pengeluaran Makin Gila

Pertumbuhan pendapatan OpenAI memang sangat dramatis. ChatGPT kini membanggakan lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan, dengan sekitar 50 juta di antaranya merupakan pelanggan berbayar. Namun, skala yang besar ini tidak berbanding lurus dengan efisiensi.

Berikut adalah ringkasan lonjakan finansial OpenAI antara tahun 2024 dan 2025:

Kategori KeuanganTahun 2024Tahun 2025
PendapatanUSD 3,7 miliarUSD 13,07 miliar
Riset dan Pengembangan7,81 miliarUSD 19,18 miliar
Beban Pokok PendapatanUSD 2,65 miliarUSD 7,5 miliar
PenjualanUSD 1,11 miliarUSD 5,73 miliar
Kerugian OperasionalUSD 8,78 miliarUSD 20,92 miliar

2. 'Setoran' Raksasa ke Microsoft

Angka pengeluaran Riset dan Pengembangan (R&D) yang menyentuh angka USD 19,18 miliar (sekitar Rp 311 triliun) sebagian besar mengalir ke biaya pelatihan model AI baru dan pembayaran ke mitra infrastruktur utama mereka. Pada tahun 2025 saja, USD 10,59 miliar dari total anggaran R&D OpenAI dibayarkan langsung ke Microsoft.

Bahkan setelah model AI selesai dilatih, biaya tidak serta-merta turun. Setiap ketikan dan prompt yang dikirimkan jutaan pengguna ke ChatGPT membutuhkan biaya komputasi (inference). Pada tingkat penggunaan saat ini, biaya receh dari setiap interaksi tersebut terakumulasi menjadi beban miliaran dolar.

3. Ilusi Kerugian Bersih USD 39 Miliar

Laporan tersebut juga mencatat angka kerugian bersih yang sangat fantastis untuk tahun 2025, yakni hampir USD 39 miliar.

Namun, angka ini sedikit mengecoh. Sebagian besar dari total kerugian tersebut berasal dari penyesuaian akuntansi satu kali yang terkait dengan perubahan valuasi investor pasca-transisi OpenAI menjadi entitas berorientasi laba (for-profit). Jika penyesuaian tersebut dikeluarkan, kerugian operasional inti perusahaan sebenarnya "hanya" berada di kisaran USD 8 miliar.

4. Suntik Mati 'Sora' dan Fokus ke B2B

Beban finansial yang sangat berat ini mulai memaksa jajaran eksekutif OpenAI untuk mengubah strategi bisnis mereka.

Beberapa waktu lalu, OpenAI telah mengambil keputusan drastis dengan mematikan sejumlah inisiatif, termasuk menyuntik mati proyek AI pembuat video, Sora. Saat ini, perusahaan memilih untuk mengetatkan fokus pada produk-produk inti yang ditujukan bagi pengembang dan pelanggan bisnis.

Sayangnya, tantangan di sektor bisnis juga tak kalah berat. Banyak klien korporat (enterprise) mulai memprotes skema harga berbasis token dan menuntut imbal hasil (ROI) yang lebih jelas dari investasi AI mereka. Di sisi lain, persaingan dengan rival seperti Anthropic semakin menekan batas harga berlangganan di pasaran.

5. Kepercayaan Investor Belum Goyah

Uniknya, meski laporan keuangannya berdarah-darah, kepercayaan investor terhadap Sam Altman dan kawan-kawan sama sekali tidak luntur.

Pada Maret 2026 lalu, OpenAI sukses meraup pendanaan jumbo sebesar USD 122 miliar dengan valuasi perusahaan menembus angka gila-gilaan, yakni USD 852 miliar. Kepada para pemodal, OpenAI berjanji akan mencapai titik impas dan mulai meraup keuntungan pada tahun 2030.

Untuk saat ini, OpenAI masih berada dalam mode "bakar uang" untuk membangun fondasi. Pertanyaannya kini adalah: sampai kapan pertumbuhan permintaan ini bisa mengimbangi atau melampaui biaya infrastruktur raksasa yang menopangnya?




(asj/asj)






Hide Ads