Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Misteri Sedikit Ular Bisa Menguasai Seluruh Pulau Guam

Misteri Sedikit Ular Bisa Menguasai Seluruh Pulau Guam


Fino Yurio Kristo - detikInet

Ular pohon cokelat
Ular pohon cokelat. Foto: BBC
Jakarta -

Ketika ular pohon cokelat (Boiga irregularis) tiba di pulau Guam tidak lama setelah Perang Dunia II, kemungkinan karena menumpang kapal kargo militer, tak ada yang menduga ular ini akan menjadi salah satu contoh spesies invasif yang paling terkenal di dunia.

Kini studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, dipimpin ilmuwan University at Buffalo, New York, mengungkap bagaimana ular pohon cokelat berhasil berkembang pesat di Guam, pulau terpencil di tengah Samudra Pasifik bagian barat.

Ular dengan penampilan biasa saja ini berukuran sedang dengan kulit cokelat kemerahan atau cokelat kekuningan yang ditandai dengan corak melintang berwarna lebih gelap, membantunya menyatu dengan kulit pohon dan lantai hutan. Ia berbisa ringan dan ancamannya sangat kecil bagi manusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu ular ini mendarat di Guam, ia menyebar cepat. Populasinya diperkirakan dua juta ekor awal tahun 1980-an. Di beberapa wilayah, jumlahnya 30.000 ekor ular per mil persegi, yang sangat merugikan bagi keanekaragaman hayati maupun ekonomi Guam.

Dari 12 spesies burung hutan asli di Guam, 10 di antaranya punah. Dengan menurunnya jumlah penyerbuk, keanekaragaman tanaman merosot. Karena ular pohon cokelat pemanjat ulung, mereka sering menyebabkan pemadaman listrik, yang berdampak parah pada sektor energi pulau itu.

ADVERTISEMENT

Keuntungan Genetik

Yang membuat ilmuwan bingung adalah bagaimana sejumlah kecil ular berkembang pesat. Populasi awal terbatas biasanya menciptakan genetic bottleneck atau terbatasnya keragaman gen dan memicu perkawinan sedarah. Normalnya, ini membuat spesies lebih rentan penyakit dan kurang mampu beradaptasi.

Lantas, bagaimana ular pohon cokelat dapat mengatasi rintangan ini? Para peneliti menemukan bahwa selama ini ular-ular tersebut ternyata membawa keuntungan genetik.

"Ular pohon cokelat mungkin tidak memiliki keragaman luar biasa, tetapi ia memiliki sumber penting keanekaragaman genetik yang selama ini kurang disadari," ujar Trevor Krabbenhoft, associate professor University at Buffalo.

Dengan memeriksa genom ular pohon cokelat, ilmuwan menemukan hampir 19.000 variasi struktural genom, sebagian besar terkonsentrasi pada gen vital untuk imunitas adaptif dan indra penciuman.

Penciuman sangatlah penting untuk navigasi dan mencari mangsa. Sementara sistem kekebalan membantu mereka mengatasi paparan patogen baru dan tak dikenal di Guam. Karenanya, kombinasi dari kedua hal ini bisa saja membalikkan keadaan dan memberikan keuntungan bagi ular.

Ilmuwan belum dapat memastikan apakah ular tersebut membentuk variasi genetik ini sebelum tiba di Guam atau apakah berevolusi setelah invasi. "Apakah mungkin sebagian dari keanekaragaman ini muncul setelah invasi? Bisa saja, tetapi kita harus mengurutkan ular dari populasi aslinya untuk mengetahuinya secara pasti," kata Gray.

Ular-ular ini mungkin saja lebih siap untuk kolonisasi dan spesies lain yang sama seperti mereka mungkin ada di luar sana. Di sisi lain, ini bisa menjadi berita baik bagi spesies terancam punah dengan populasi kecil.

"Ada kemungkinan spesies terancam punah mungkin punya fleksibilitas lebih besar dalam gen mereka dari yang disadari," ujar Christopher Osborne, mantan mahasiswa PhD di laboratorium Krabbenhoft.

"Kami sekarang mendapatkan pemahaman lebih baik tentang sumber-sumber keanekaragaman genetik yang sebelumnya kurang disadari, yang dapat menjelaskan bagaimana beberapa spesies hasil kawin sedarah masih dapat merespons lingkungan," imbuhnya.



(fyk/fay)






Hide Ads