Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ironis, Bos Amazon Naik Gaji Usai PHK Puluhan Ribu Karyawan

Ironis, Bos Amazon Naik Gaji Usai PHK Puluhan Ribu Karyawan


Anggoro Suryo - detikInet

Ilustrasi Amazon
Foto: Unsplash/Christian Wiediger
Jakarta -

Kabar kenaikan gaji bos Amazon Andy Jassy tampaknya akan membuat pilu puluhan ribu karyawan yang baru saja terkena PHK. Total kompensasinya tahun lalu tercatat naik sekitar 30 persen menjadi USD 2,1 juta atau sekitar Rp 33,6 miliar.

Raksasa teknologi ini baru saja menerbitkan laporan proksi tahunannya kepada publik. Dokumen keuangan tersebut secara gamblang merinci total pendapatan sang pimpinan puncak sepanjang tahun 2025 lalu.

Jassy tercatat menerima gaji pokok sebesar USD 365.000 atau sekitar Rp 5,8 miliar. Sementara itu biaya perjalanan bisnis dan keamanannya mencapai USD 1,7 juta atau setara Rp 27,2 miliar sehingga totalnya membengkak tajam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Selain itu ia juga mencairkan penghargaan saham senilai USD 43 juta atau sekitar Rp 688 miliar. Sang bos juga masih memiliki simpanan saham terbatas senilai USD 242 juta atau sekitar Rp 3,8 triliun yang belum dicairkan hingga akhir Desember lalu.

Kompensasi ini meningkat pesat jika dibandingkan dengan periode tahun 2024 sebelumnya. Gaji pokoknya kala itu tidak berubah, tetapi pengeluaran keamanan dan perjalanannya berada di angka USD 1,1 juta atau sekitar Rp 17,6 miliar.

Pada tahun pertamanya menjabat di 2021, ia sempat menerima penghargaan saham yang luar biasa besar dari perusahaan. Total kompensasi tahunannya kala itu bahkan melonjak tajam hingga menembus angka USD 200 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun.

Kesenjangan gaji selangit antara pimpinan dan bawahan sebenarnya bukan hal baru di industri teknologi. Namun fakta ini tentu sangat menyakitkan bagi para pekerja Amazon di tengah badai pemutusan hubungan kerja yang terus berlanjut.

Perusahaan ini tercatat sudah memangkas setidaknya 30.400 pekerjaan sejak awal tahun 2025 lalu. Pemangkasan besar-besaran ini menyapu bersih sekitar 10 persen tenaga kerja kantoran mereka di berbagai divisi.

Bahkan divisi robotika Amazon yang dirancang untuk mengurangi beban kerja gudang juga ikut terkena imbas pemangkasan tersebut. Perusahaan berdalih efisiensi yang didorong oleh implementasi AI menjadi salah satu alasan di balik langkah berat ini.

Amazon juga beralasan bahwa langkah ini diambil untuk mengurangi lapisan birokrasi dan merampingkan bisnis perusahaan, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (13/4/2026).

Paket kompensasi Jassy ini sebenarnya sangat mencerminkan standar pembayaran sebagian besar bos perusahaan teknologi. Gaji pokok sering kali menjadi bagian terkecil, sementara saham berjangka menyumbang porsi terbesar dari pundi-pundi kekayaan mereka.




(asj/asj)




Hide Ads