Mesin jet yang selama puluhan tahun identik dengan pesawat terbang kini menemukan peran baru di darat, yaitu jadi pembangkit listrik untuk data center AI.
Melonjaknya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) membuat pengembang data center semakin sering memanfaatkan turbin dari mesin pesawat dan generator diesel untuk menyuplai listrik ke data center mereka, karena pasokan listrik dari jaringan setempat tidak tersedia.
Di banyak wilayah Amerika Serikat, antrean penyambungan data center ke jaringan listrik bisa memakan waktu hingga tujuh tahun. Kondisi ini memaksa pengembang hyperscale mencari solusi cepat, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (5/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketimbang menunggu transmisi baru, mereka memasang pembangkit listrik langsung di lokasi data center, menggunakan turbin aeroderivative dan genset sebagai sumber daya sementara.
Permintaan ini langsung terasa di sisi pemasok. Produsen turbin yang awalnya melayani industri penerbangan melaporkan lonjakan pesanan. GE Vernova, misalnya, memasok turbin aeroderivative ke Crusoe untuk proyek Stargate di Texas, fasilitas raksasa yang digarap OpenAI, Oracle, dan SoftBank. Turbin tersebut ditargetkan menyuplai listrik hampir 1 gigawatt.
Manajemen GE Vernova mengungkapkan permintaan untuk turbin gas berukuran kecil dan menengah meningkat signifikan sepanjang 2025. Turbin jenis ini diposisikan sebagai pemasok sementara agar pusat data AI tetap beroperasi sambil menunggu akses listrik dari jaringan.
Pemain lain seperti ProEnergy juga mencatat penjualan lebih dari 1 gigawatt turbin gas berbasis mesin jet, termasuk yang menggunakan inti mesin Boeing 747. Bahkan Boom Supersonic, startup penerbangan supersonik yang didukung Sam Altman, menjual turbin yang hampir identik dengan mesin pesawatnya untuk memasok listrik data center. Penjualan energi ini membantu membiayai pengembangan pesawat mereka.
Selain turbin gas, generator diesel ikut naik daun. Cummins melaporkan telah menjual pembangkit dengan kapasitas lebih dari 39 gigawatt ke sektor data center. Jika sebelumnya genset hanya dipakai sebagai cadangan, kini makin banyak yang digunakan sebagai sumber listrik utama.
Namun solusi ini datang dengan konsekuensi. Pembangkit kecil di lokasi umumnya lebih mahal dan kurang efisien dibanding listrik utilitas atau energi terbarukan. Analisis BNP Paribas menunjukkan biaya listrik dari pembangkit gas kecil bisa mencapai USD 175 per megawatt-hour, hampir dua kali lipat rata-rata biaya industri.
Dari sisi lingkungan, kekhawatiran juga meningkat. Penggunaan turbin gas dan diesel memperbesar emisi, sehingga sejumlah negara bagian mulai melonggarkan aturan operasional genset demi memenuhi kebutuhan listrik pusat data.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: di tengah ledakan AI, pasokan listrik kini menjadi bottleneck baru. Mesin jet pun, setidaknya untuk sementara, berubah fungsi dari simbol penerbangan menjadi tulang punggung infrastruktur AI dunia.
Baca juga: 2025 Jadi Tahunnya Artificial Intelligence |
(asj/fay)