Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Dulu Rival Kini Sekutu! Nvidia Borong Saham Intel Rp 83 T Buat Chip AI

Dulu Rival Kini Sekutu! Nvidia Borong Saham Intel Rp 83 T Buat Chip AI


Anggoro Suryo - detikInet

HANOVER, GERMANY - JUNE 12: The Intel logo is displayed at the Intel stand at the 2018 CeBIT technology trade fair on June 12, 2018 in Hanover, Germany. The 2018 CeBIT is running from June 11-15. (Photo by Alexander Koerner/Getty Images)
Nvidia resmi memborong saham Intel senilai Rp 83 T. Dari rival jadi sekutu, keduanya siap menggarap chip AI hingga data center. Foto: Alexander Koerner/Getty Images
Jakarta -

Setelah disepakati pada September 2025 lalu, Nvidia akhirnya resmi memborong sekitar 215 juta saham Intel dengan harga USD 23,28 per saham, berdasarkan dokumen regulator.

Transaksi senilai sekitar USD 5 miliar atau kisaran Rp 83 triliun itu sebelumnya telah mendapat persetujuan Federal Trade Commission (FTC) dan disepakati pada September lalu oleh CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Intel Lip-Bu Tan, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (2/1/2026).

Sejak kesepakatan tersebut diumumkan, saham Intel melonjak tajam. Pada penutupan perdagangan Senin, saham Intel berada di level USD 36,68 dan sempat diperdagangkan mendekati USD 38, membuat nilai kepemilikan Nvidia kini jauh melampaui nilai investasi awalnya. Meski keuntungan tersebut masih bersifat unrealized, lonjakan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar terhadap Intel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, kerja sama Nvidia dan Intel tidak berhenti pada investasi finansial. Kedua perusahaan menyatakan akan menjalin kolaborasi teknis jangka panjang, termasuk pengembangan platform bersama dan desain system-on-chip (SoC) lintas beberapa generasi untuk pusat data dan PC konsumen.

ADVERTISEMENT

Untuk segmen data center, Nvidia dan Intel berencana memanfaatkan teknologi NVLink milik Nvidia guna mengintegrasikan GPU Nvidia dengan prosesor x86 Intel secara lebih erat. Pendekatan ini ditujukan untuk menghadirkan alternatif selain koneksi berbasis PCI Express, terutama untuk beban kerja AI yang membutuhkan bandwidth tinggi dan latensi rendah.

Di sisi konsumen, kedua perusahaan juga membuka peluang pengembangan chip bergaya SoC yang menggabungkan CPU Intel dengan grafis Nvidia RTX. Jika terealisasi, solusi ini berpotensi menjadi pesaing langsung APU AMD, dengan menawarkan performa grafis kelas diskret dalam sistem yang lebih ringkas dan terjangkau.

Persetujuan FTC terhadap kesepakatan ini turut menjadi sorotan. Sikap regulator tersebut kontras dengan penolakan keras terhadap rencana akuisisi Arm oleh Nvidia pada 2021 lalu, yang saat itu dinilai berisiko menghambat persaingan. Dalam kasus Intel, regulator tampaknya lebih menerima model kepemilikan minoritas yang disertai kolaborasi teknologi.

Meski belum menghasilkan produk konkret, kemitraan ini menunjukkan arah baru industri, di mana CPU dan GPU tak lagi dikembangkan secara terpisah. Dengan ikatan finansial dan teknis yang semakin erat, Nvidia dan Intel bersiap menghadapi persaingan komputasi generasi berikutnya.




(asj/afr)







Hide Ads
LIVE