5 Tips Menghidupi Startup Saat Resesi

5 Tips Menghidupi Startup Saat Resesi

ADVERTISEMENT

5 Tips Menghidupi Startup Saat Resesi

Anggoro Suryo - detikInet
Rabu, 09 Nov 2022 18:31 WIB
Startup Studio Indonesia
Foto: Dok. SSI
Jakarta -

Kondisi startup digital di Indonesia kondisinya tengah tak kondusif karena kondisi ekonomi global yang melemah.

Sebagai upaya untuk membantu startup founders agar bisa mempertahankan momentum usaha dan mencapai Product-Market Fit (PMF) dengan tepat, Kominfo pun menyelenggarakan program inkubasi Startup Studio Indonesia (SSI).

Dalam program yang telah memasuki Batch kelima ini, para startup terpilih berkesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan pelaku startup veteran di Indonesia, dalam sesi 1-on-1 Coaching.

Berikut ini adalah rangkuman 5 pesan penting dari para veteran startup bagi para founder yang baru saja memulai usaha rintisannya:

1. Disrupsi dan tren tidak perlu selalu diikuti
Selama ini, startup selalu diidentikkan dengan usaha yang mendisrupsi bisnis konvensional. Namun, pada kenyataannya, disrupsi dan tren tidak selalu berjalan di jangka panjang. Hal ini diungkapkan oleh Christopher Madiam, Founder dan CEO Sociolla.

"Tidak semua hal bisa di-disrupsi. Kita sebagai founders harus bisa menganalisa mana kebiasaan konsumen yang bisa diubah, dan mana yang tidak. Misalnya di Sociolla, kami percaya bahwa kehadiran toko offline adalah hal yang tidak akan berubah. Bagaimanapun berkembangnya sistem e-commerce, toko offline pasti akan tetap eksis, itulah mengapa kami pun mengembangkan kehadiran offline. Jadi perlu diingat bahwa tidak semua disrupsi dan tren-tren digitalisasi baru perlu untuk kita ikuti," ungkapnya dalam keterangan yang diterima detikINET, Rabu (9/11/2022).

2. Gabungkan hasil benchmarking dengan data dan analisa mandiri
Salah satu cara startup untuk bisa memahami pasar yang dituju adalah dengan melakukan benchmarking, yaitu menganalisa apa yang telah dilakukan startup serupa atau bahkan kompetitor. Di tahap awal, founder pun bisa menjajal langsung dengan menjadi user di bisnis serupa, agar bisa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari startup lain dan menghadirkan solusi yang lebih baik.

"Di awal perkembangan, Kitabisa sering belajar dari operasional platform penghimpunan dana internasional, Gofundme. Namun, ada perbedaan bisnis yang cukup signifikan, justru setelah itu kami menemukan platform crowdfunding dari India yang punya produk yang lebih mirip, sehingga menjadi patokan benchmarking kami. Tapi, hasil dari benchmarking ini wajib untuk kami kombinasikan dengan insight data yang kami punya, karena bagaimanapun setiap pasar memiliki dinamikanya sendiri-sendiri," ujar Alfatih Timur, Co-Founder & CEO Kitabisa.com.

Halaman selanjuntnya: Eksperimen dan bikin fitur >>>

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT