Microsoft PHK 400 Pegawai di Rusia

Microsoft PHK 400 Pegawai di Rusia

Anggoro Suryo - detikInet
Kamis, 09 Jun 2022 14:16 WIB
NEW YORK, NY - MAY 2: The Microsoft logo is illuminated on a wall during a Microsoft launch event to introduce the new Microsoft Surface laptop and Windows 10 S operating system, May 2, 2017 in New York City. The Windows 10 S operating system is geared toward the education market and is Microsofts answer to Googles Chrome OS. (Photo by Drew Angerer/Getty Images)
Foto: Drew Angerer/Getty Images
Jakarta -

Setelah memastikan akan memperkecil bisnisnya di Rusia, kini Microsoft membuktikannya dengan mem-PHK 400 pegawai di Rusia. Hal ini setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022.

Sebelumnya Microsoft sudah menyetop penjualan produk dan layanan barunya di Rusia, tepatnya pada awal Maret lalu, dan kini tampaknya Microsoft sudah benar-benar memperkecil bisnisnya di Rusia dengan memecat ratusan pegawainya itu.

"Sebagai hasil dari perubahan rencana ekonomi dan dampaknya terhadap bisnis kami di Rusia, kami memutuskan untuk memperkecil operasi kami di Rusia secara signifikan. Kami akan terus memenuhi kewajiban kontrak dengan konsumen di Rusia sembari menyetop penjualan baru," ujar juru bicara Microsoft.

Microsoft mengaku akan bertanggung jawab pada 400 pegawai yang di-PHK di Rusia ini. Tak diketahui juga ada berapa pegawai Microsoft di Rusia, namun yang jelas sebelumnya CFO Microsoft Amy Hood menyebut pemasukan Microsoft dari Rusia kurang dari 1% pemasukan total mereka.

Microsoft bukan satu-satunya perusahaan multinasional yang menyetop atau memperkecil bisnisnya di Rusia. Ada banyak perusahaan barat seperti Dell, Apple, Nike, dan Adidas yang memutus hubungannya dengan Rusia, seperti menutup toko ataupun menyetop sementara penjualannya, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Kamis (9/6/2022).

Sebelumnya diberitakan, Microsoft menghentikan pemasaran seluruh produk dan layanan baru di Rusia. Raksasa teknologi yang didirikan Bill Gates ini mengaku berkoordinasi dengan pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa dalam melakukan tindakan tersebut.

"Kami yakin bisa paling efektif membantu Ukraina ketika kami mengambil tindakan konkret dalam koordinasi dengan keputusan yang telah diambil oleh para pemerintah itu dan kami akan mengambil aksi lanjutan jika situasi ini terus berkembang," kata President & Vice Chair Microsoft, Brad Smith.

Sebelumnya, Microsoft juga menyediakan informasi kepada Pemerintah Ukraina jika terjadi serangan siber. Serangan hacker itu diketahui menyasar institusi militer dan manufaktur di Ukraina.



Simak Video "Zelensky Tak Percaya Klaim Rusia Ingin Akhiri Perang "
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)