Potensi Bisnis Startup Ada di Sektor Finansial

Potensi Bisnis Startup Ada di Sektor Finansial

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 18 Sep 2020 12:08 WIB
Ilustrasi fintech
Foto: istimewa
Jakarta -

Potensi bisnis terbesar untuk startup, apa pun bidang usahanya, disebut berada pada sektor finansial.

Hal ini diutarakan oleh Sebastian Tobing, CFA, Head of Research & Institutional Business Trimegah Securities. Bahkan menurutnya seluruh platform digital yang ada di Indonesia diperkirakan Sebastian akan menjalankan fungsi finansial. Seperti memberikan kredit mikro atau menawarkan produk asuransi.

Salah satu contohnya adalah Gojek dan Grab. Bisnis ride hailing memang mengalami tekanan di masa pandemi Corona seperti saat ini, namun menurut Sebastian, bisnis Grab dan Gojek masih cukup menjanjikan.

"Memang untuk layanan ride hailing masih mengalami tekanan. Namun untuk Grab dan Gojek saat ini sangat terbantu dengan divisi foodnya. Di saat PSBB kemarin orang yang biasanya pesan GrabFood maupun GoFood sehari bisa tiga kali. Sebelum PSBB orang hanya beli sehari sekali. Mungkin saat ini nilai transkasi GrabFood dan GoFood sudah naik," terang Sebastian.

Diakui Sebastian, di berbagai belahan dunia, perusahaan startup baik yang menggembangkan aplikasi ride hailing ataupun yang tidak secara natural akan mengembangkan ke arah finansial. Makanya perusahaan BUMN dan swasta nasional saat ini berlomba untuk investasi di startup atau decacorn.

"Itu prospeknya sangat besar di industri finansial. Saat ini Gojek dan Grab juga sudah mengarah ke industri finansial. Contohnya mereka sudah memberikan pinjaman ke restoran yang menjadi mitra mereka. Dengan data yang dimiliki Grab dan Gojek mereka tahu restoran yang memiliki penjualan yang baik," ujarnya.

"Yang membuat BCA memiliki NPL (non performing loan) rendah adalah karena mereka memiliki data yang bagus untuk kesemua nasabahnya. Jika ada orang yang akan mengajukan pinjaman, Gojek dan Grab sudah pasti memiliki data yang valid. Ini juga yang kelak akan dilakukan oleh Grab dan Gojek di sektor finansial," terang Sebastian.

Dengan data yang sangat bagus yang dimiliki oleh Grab dan Gojek, Sebastian yakin nantinya dua platform digital tersebut ketika memberikan kredit mikro, maka NPL nya akan rendah. Berbeda dengan perusahaan fintech yang tidak memiliki data yang bagus. Akibatnya NPL di perusahaan fintech menjadi lebih besar.

Beberapa waktu yang lalu juga beredar isu Telkom Group akan berinvestasi di Gojek. Menurut Sebastian, jika itu sampai terjadi maka akan banyak sinergi yang akan dilakukan oleh dua perusahaan tersebut. Potensi yang dalam waktu dekat dapat diambil adalah peluang driver Gojek untuk dapat menggunakan layanan Telkomsel.

"Sangat menarik jika benar Telkom Group akan investasi di Gojek. Ini good bisnis banget. Memang jika Telkom investasi di Gojek potensi upside sudah terbatas. Namun risikonya lebih dapat ter-manage karena bisnisnya sudah pasti. Kalau yang kecil itu potensi upside besar namun resiko besar. Kita juga harus melihat valuasi dari Gojek dan berapa dana yang akan diinvestasikan Telkom Group. Itu yang belum saya ketahui. Jika saya sudah mendapatkan data yang rinci, baru bisa kita hitung berapa potensi keuntungan yang akan didapatkan Telkom Group ketika akuisisi ini terjadi," kata Sebastian.

Telkom sendiri saat ini sudah menjadi 'bapak angkat' di beberapa perusahaan rintisan di Indonesia. Mereka juga disebut sudah menyiapkan dana sebesar USD 300 juta sampai USD 500 juta untuk berinvestasi lagi.

(asj/fay)