Seluk Beluk Investasi di Startup

Seluk Beluk Investasi di Startup

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 17 Sep 2020 15:40 WIB
ilustrasi startup
Foto: Internet
Jakarta -

Pandemi Corona ternyata tak mengurangi minat investor, atau tepatnya angel investor, untuk berinvestasi di startup atau perusahaan rintisan.

Meski begitu, mereka tentu akan sangat berhati-hati dan selektif dalam memilih startup yang akan diberi suntikan dana. Hal ini diutarakan oleh Alexander Rusli, mantan CEO Indosat Ooredoo, yang juga seorang angel investor.

Menurut Alex, saat ini masih banyak investor yang mencari startup untuk diberi suntikan dana,termasuk perusahaan-perusahaan yang juga getol berburu startup.

Tujuan mereka berinvestasi di startup adalah selain mencari potensi pendapatan dari luar bisnis inti mereka, mereka pun juga mencari teknologi atau inovasi yang ke depannya bisa dikolaborasikan dengan bisnis inti mereka.

Tentu tak sembarang bisnis yang dipilih untuk mendapat suntikan dana tersebut. Startup yang hobi 'bakar uang' tanpa rencana profitabilitas jelas di masa yang akan datang tentu tak akan dilirik.

Contohnya seperti yang dilakukan Alex, yang memberi kucuran dana untuk startup bernama Redkendi, yang fokus pada segmen business to business. Menurut Alex, ia memilih Redkendi karena mempunyai target yang jelas dan berpotensi punya profitabilitas lebih jelas di masa mendatang.

"Investor sekarang lebih selektif. Seperti BCA atau Telkom yang ikut berinvestasi di perusahaan rintisan. Mereka akan sangat berhati-hati dalam berinvestasi di perusahaan rintisan. Ketika mereka akan melakukan investasi tentu melihat resiko dan potensi bisnis yang bisa disinergikan dengan bisnis intinya. Biasanya mereka masuk bertahap. Kalau mereka confidence, investasi besar baru mereka keluarkan. Jadi wajar saja jika saat ini Telkom, BCA atau BRI berinvestasi di perusahaan rintisan," terang Alex.

Agar meminimalkan resiko berinvestasi di startup, biasanya perusahaan besar seperti Telkom, BCA dan BRI tak akan masuk stage awal. Mereka akan masuk di stage tengah. Sedangkan Alex sendiri lebih menyukai untuk masuk di stage awal.

Alex mengakui masuk di stage awal memiliki resiko dan effort yang lebih. Namun dana yang diinvestasikan tidak besar namun potensi keuntungan yang kemungkinan akan diperoleh akan besar. Agar dapat meminimalkan resiko investasinya, Alex harus ikut terlibat langsung di dalam startup yang dimasukinya.

"Memang ketika masuk di stage awal kita bisa mengatur arah perusahaan. Beda jika kita masuk di stage tengah atau akhir. Akan sulit kita mengatur arah perusahaan. Karena sistem mereka sudah berjalan. Karena sistemnya sudah berjalan dengan baik maka risikonya juga rendah. Karena resiko rendah keuntungan yang didapat juga tak akan eksponensial," terang Alex.

Alex menceritakan ketika memimpin di perusahaan sebelumnya, ia memutuskan melakukan investasi awal di Grab. Pada saat Alex meninggalkan perusahaan lamanya tersebut, investasi yang ditanamkan di Grab sudah tumbuh 5 kali lipat. Jika investor saat ini ingin berinvestasi di perusahaan yang sudah mature, Alex memperkirakan keuntungannya mungkin tak akan terlalu tinggi lagi.

"Susah saat ini memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh ketika hendak masuk ke perusahaan yang sudah mature. Karena valuasi mereka saat ini sudah sangat tinggi. Mencapai USD 10 miliar. Meski demikian investor masih berpotensi mendapatkan keuntungan jika saat ini mereka ingin masuk ke perusahaan rintisan yang sudah mature," pungkas Alex.



Simak Video "Ini Dia Salah Satu Peluang Startup yang Masih Jarang Ada di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)