Jumat, 15 Nov 2019 08:00 WIB

Workmate Dapat Pendanaan Rp 73 Miliar

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Dok. Workmate Foto: Dok. Workmate
Jakarta - Platform tenaga kerja end-to-end, Workmate (sebelumnya bernama Helpster), menutup putaran pendanaan Seri A dengan meraih Rp 73 miliar (USD 5,2 juta).

Investasi ini dipimpin oleh Atlas Ventures dengan partisipasi oleh Gobi Partners dan Beacon Venture Capital (Kasikorn Bank), serta investor-investor pada ronde sebelumnya. Dana dari investor akan digunakan untuk meningkatkan investasi dalam penjualan, memperbesar tim teknologi, dan memperluas bisnis ke kota-kota baru.

Dengan pendanaan ini, Workmate telah mengumpulkan total dana sebesar 140 miliar rupiah (USD 10 juta) sejak diluncurkan pada tahun 2016. Perusahaan rintisan ini memiliki misi utama untuk memfasilitasi sektor tenaga kerja informal dengan skala tinggi di Asia Tenggara.


Di Asia Tenggara sendiri, sektor tenaga kerja informal menyumbang lebih dari 50% dari total tenaga kerja. Pada tahun 2025, pasar rekrutmen tenaga kerja informal di wilayah ini diprediksi akan meningkat dua kali lipat, menjadi 112 triliun rupiah (USD 8 miliar).

Namun, di balik potensi besar ini, metode pencarian tenaga kerja di Asia Tenggara masih berkutat pada cara tradisional - seperti sosialisasi mulut-ke-mulut. Oleh karena itu, masih terdapat hambatan untuk mendapatkan pekerjaan yang konsisten dan dapat dipercaya.

CEO dan Co-founder Workmate, Mathew Ward, memiliki misi untuk mengubah sektor pencarian tenaga kerja informal. Mathew, bersama dengan para co-founder-nya, telah memiliki rekam jejak yang sukses dalam membangun startup-startup teknologi di Asia Tenggara. Beberapa diantaranya adalah Admax Network, Ardent Capital, Ensogo, dan aCommerce.

"Ketika agen tenaga kerja masih melakukan cara manual, kami telah membangun sistem otomatis - dimana perusahaan bisa langsung menghubungi calon karyawan, tanpa harus melalui jasa agen yang biasa menetapkan tarif perantara hingga 30%. Kami telah mengimplementasikan metode modern ini secara luas," jelas Mathew dalam keterangan yang diterima detikINET.

"Model bisnis perekrutan sekarang masih sangat manual dan sangat sedikit tersentuh teknologi. Jika dilihat, model bisnis ini belum berubah banyak selama 40 tahun terakhir. Karena itu, sektor tenaga kerja informal ini punya potensi besar untuk mendapatkan disrupsi. Model bisnis yang kami tawarkan juga sedang berkembang pesat di pasar internasional - bahkan Uber baru mengumumkan mereka telah meluncurkan Uber Works sebagai solusi perekrutan tenaga kerja di AS," tambahnya.

Workmate berkantor pusat di Singapura, dengan kantor cabang di Bangkok, Jakarta, Bali, dan memiliki rencana untuk berekspansi lebih lanjut pada tahun 2020. Beberapa pelanggan awal dari platform ini mencakup aCommerce, Flash Express, JD Central, Taco Bell, Lazada dan Chilindo di Thailand. Di Indonesia, Workmate telah mendukung Ismaya Group, Grab, NinjaVan, Kopi Kenangan, dan STOQO. Pada tahun 2018, platform ini juga mengirimkan lebih dari 1.000 pekerja ke Asian Games yang diadakan di Jakarta dan Palembang.



Simak Video "Menkominfo Sebut Startup Pendidikan Sebagai Calon Kuat ''The Next Unicorn''"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)