Senin, 26 Agu 2019 06:04 WIB

Gara-gara AS, Huawei Bisa Kehilangan Pemasukan Rp 142 Triliun

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Meski dampak pembatasan perdagangan yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat ke Huawei tak sebesar yang awalnya dikira, nilainya tetap sangat besar. Mencapai USD 10 miliar atau sekitar Rp 142 triliun.

Bisnis Huawei yang nilainya mencapai USD 100 miliar benar-benar terkena dampak yang besar sejak pertengahan Mei lalu. Tepatnya setelah pemerintah AS memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam perusahaan yang dilarang berbisnis dengan perusahaan AS.

Awalnya, pendiri sekaligus CEO Huawei Ren Zhengfei memperkirakan kalau keputusan pemerintah AS itu akan akan mengurangi pemasukan Huawei sebanyak USD 30 miliar, tepatnya pada Juni lalu, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Minggu (25/8/2019).

"Ini sepertinya akan lebih rendah dari itu. Namun anda harus menunggu sampai hasil kami muncul pada Maret," ujar Eric Xu, deputy chairman Huawei dalam sebuah konferensi pers.


Divisi perangkat konsumer Huawei -- termasuk bisnis ponsel di dalamnya -- bahkan sampai buru-buru mengembangkan sistem operasinya sendiri untuk menyikapi pemblokiran tersebut. Pasalnya pemblokiran tersebut membuat mereka tak bisa menggunakan OS Android secara penuh.

"Namun pengurangan (penjualan) lebih dari USD 10 miliar bisa terjadi," ujar Xu.

Sebagai perbandingan, divisi perangkat konsumer Huawei sendiri pada 2018 lalu mencatatkan pemasukan 349 miliar yuan, atau USD 49,1 miliar.

Namun untungnya sampai saat ini Huawei masih terus mendapatkan perpanjangan nyawa dari pemerintah AS. Karena aturan pemblokiran tersebut masih terus ditunda, yaitu setelah sempat ditunda selama 90 hari, kini penundaannya diperpanjang kembali selama 90 hari.

Simak Video "Huawei Akui Tak Kena Dampak Signifikan Kebijakan AS soal Boikot China"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com