Jumat, 31 Mei 2019 15:34 WIB

Diancam China dengan 'Tanah Jarang', Ini Tanggapan AS

Fino Yurio Kristo - detikInet
Tanah jarang. Foto: Reuters Tanah jarang. Foto: Reuters
Washington - Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon langsung bereaksi begitu China mengancam akan melarang ekspor 'tanah jarang', yang krusial buat peralatan militer. Pentagon menyatakan sedang mengusahakan pendanaan untuk meningkatkan produksi tanah jarang secara domestik.

"Departemen terus bekerja erat dengan presiden, konggres, dan industri AS untuk meningkatkan daya saing AS di pasar mineral," kata juru bicara Pentagon, Kolonel Mike Andrews yang dikutip detikINET dari Reuters.

Antara tahun 2004 sampai 2017, China mengekspor sekitar 80% tanah jarang ke AS. Hanya ada sedikit alternatif karena China memiliki 37% persediaan tanah jarang global dan punya fasilitas produksi memadai.




Meski belum ada komentar dari pemerintah China selain dari medianya yang memperingatkan pembatasan ekspor tanah jarang, niat itu bisa saja terjadi. Padahal mineral langka amat penting dalam industri pertahanan AS.

Kapal selam kelas Virginia membutuhkan tanah jarang sebanyak 4.100 kilogram. Kontraktor pembuat alat pertahanan AS seperti Raytheon dan Lockheed Martin memanfaatkan mineral langka untuk membuat sistem pemandu high end dan sensor misil serta platform militer lainnya.

Bahkan, pesawat tempur generasi kelima paling canggih milik AS, F-35 Lighting II Joint Strike Fighter, butuh 417 kilogram tanah jarang. Jika China sampai menghentikan ekspor, AS berpotensi kelabakan karena Negeri Paman Sam praktis tak punya kapabilitas untuk memproduksi.

Pentagon sudah berulangkali memperingatkan ketergantungan AS pada China soal pasokan tanah jarang. Kemandirian produksi pun beberapa kali ditekankan.

Penambangan Mountain Pass di China adalah satu-satunya fasilitas produksi tanah jarang di AS. Itupun MP Materials selaku pemiliknya, tetap bergantung pada China. Tiap tahun, mereka mengapalkan 50 ribu ton tanah jarang ke China untuk diproses.

Sedikitnya, ada 3 perusahaan di Negeri Paman Sam yang saat ini membangun atau merencanakan produksi tanah jarang, satu kabarnya siap dibuka tahun depan. Dua lainnya baru akan dibuka paling cepat pada tahun 2022.




(fyk/krs)