Selasa, 19 Mar 2019 10:20 WIB

Pembuat Ponsel Layar Lipat Pertama Mau IPO?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Royole FlexPai. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET Royole FlexPai. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta - Royole, pembuat ponsel layar lipat perdana di dunia bernama FlexPai, dilaporkan tengah mencari pendanaan sebesar USD 1 miliar. Uang tersebut rencananya bakal digunakan untuk menuntun mereka ke lantai bursa.

Nantinya, startup yang berbasis di Shenzen, China itu akan memiliki valuasi sekitar USD 8 miliar setelah terjun di pasar saham. Walau sudah mengumumkan bakal menjadi perusahaan publik, Royole belum mengumumkan mau mendaftar di pasar bursa mana.

Seorang sumber menyebut Royole ingin melakukan Initial Public Offering (IPO) untuk memperluas penjualan dan pemasaran serta fasilitas riset mereka. Untuk saat ini, valuasinya masih berada di kisaran USD 5 miliar, sebagaimana detikINET kutip dari Bloomberg, Selasa (19/3/2019).




Ini menjadi menarik mengingat valuasi Royole belum besar-besar sekali. Bahkan, nilainya masih kalah dari dua penyedia layanan ride-hailing terbesar di Asia Tenggara, yakni Grab dan Go-Jek.

Grab belum lama ini sudah mengumumkan bahwa pihaknya telah menyabet titel decacorn, yakni startup dengan valuasi di atas USD 10 miliar. Sedangkan Go-Jek sejak tahun lalu santer diberitakan nilainya sudah berada di kisaran USD 9 miliar.

Hal yang sama juga berlaku untuk dua penyedia sejenis, namun dengan skala lebih besar, yakni Uber dan Lyft. Nama pertama sudah bernilai USD 120 miliar, mengalahkan PayPal (USD 117,8 miliar), Nvidia (USD 103 miliar), hingga 21st Century Fox (USD 96 miliar).

Sedangkan Lyft mirip dengan Royole sejatinya, yakni ingin bersiap untuk IPO. Walau demikian, valuasi yang diincarnya nanti setelah IPO sekitar tiga kali lebih besar dari pembuat FlexPai tersebut, yakni USD 20 miliar hingga USD 25 miliar.




Dikhawatirkan, begitu melantai di bursa, target valuasi yang dicanangkan Royole tidak tercapai. Kejadian ini pernah menimpa Xiaomi pada pertengahan tahun lalu.

Kala itu, perusahaan yang melahirkan brand Redmi dan Pocophone tersebut menargetkan bakal bernilai USD 100 miliar setelah IPO. Sayangnya, harga saham yang merosot membuat nilainya hanya berada di angka USD 54,3 miliar ketika debutnya di pasar bursa.

Menarik untuk ditunggu bagaimana kiprah Royole ke depan. Pasalnya, ada yang berpendapat bahwa ia akan fokus pada pembuatan layar fleksibel dan menjualnya ke perusahaan lain, bukannya memproduksi ponsel layar lipat sendiri seperti yang sudah dituntaskannya melalui FlexPai.


(rns/rns)