Bulan Maret lalu Grab mengumumkan akuisisi unit bisnis Uber di Asia Tenggara. Hal ini membuat eksistensi Grab jadi semakin besar di kawasan tersebut.
Delapan bulan berlalu sejak akuisisi tersebut dilakukan boleh jadi masih ada yang bertanya-tanya, kok bisa ya Grab mencaplok Uber? Bagi yang masih penasaran, ini jawabannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mencari apa sebenarnya yang unik di satu kawasan. Kami mencari kebutuhan-kebutuhan lokal. Ini yang membantu kami dalam mendorong Uber untuk memutuskan merger dengan kami," tuturnya.
Baca juga: Resmi! Grab Akuisisi Uber |
Hal ini tampak dari diferensiasi layanan yang dihadirkan Grab di masing-masing negara. Di Myanmar mereka memiliki GrabThoneBane yang mirip dengan bajaj. Lalu di Kamboja ada GrabRemorque, semacam becak yang ditarik dengan motor. Kemudian Filipina punya dua layanan spesial, yaitu GrabJeep dan GrabTrike.
Selain itu, para teknisi Grab juga paham bahwa beragam ponsel yang beredar di Asia Tenggara bisa jadi kendala. Ada yang dibeli dari tangan kedua, resolusi layarnya masih rendah, hingga sistem operasinya yang tidak diperbarui. Terkait hal tersebut, Ongki menyebut pihaknya sudah membuat aplikasi yang mengakomodasi kebanyakan user.
Untuk perangkat low-end, Grab mendesain aplikasinya untuk perangkat dengan layar kecil. Sedangkan pada ponsel dengan OS jadul, mereka menggunakan ponsel kelas bawah untuk mengujinya secara terus menerus.
Tidak ketinggalan, metode pembayaran juga diperhatikan oleh Grab. Saat pertama kali hadir di Indonesia, Uber sempat hanya menerima kartu kredit sebagai metode pembayaran.
Startup besutan Travis Kalanick itu pun kesulitan untuk memungkinkan penumpang membayar dengan uang tunai. Di sisi lain, Grab sudah menerapkannya dengan segera begitu hadir di Tanah Air.
(mon/krs)