Microsoft-BPK Penabur Teken Kontrak US$ 75 Ribu
- detikInet
Jakarta -
PT Microsoft Indonesia mendapatkan kontrak School Agreement (SA) senilai US$ 75 ribu dari Yayasan BPK Penabur. Perjanjian itu meliputi penggunaan lisensi sistim operasi beserta aplikasi Microsoft untuk 1000 komputer, pada 120 sekolah di 15 kota yang dinaungi Yayasan BPK Penabur.Dengan ditandatanganinya perjanjian senilai US$ 75 ribu (Rp 731 juta) tersebut, sekolah-sekolah di bawah BPK Penabur akan diizinkan untuk memakai sistim operasi Windows XP, aplikasi perkantoran Office XP, aplikasi Live Meeting, Visual Studio dan Software Informasi Sekolah (SIS). Keseluruhan software tersebut bisa diinstal di 1000 komputer milik BPK Penabur, dan hanya boleh dipakai oleh siswa, guru dan karyawan di lingkungan sekolah BPK Penabur. Microsoft tidak merinci harga masing-masing software dan aplikasi yang dipatok dalam perjanjian ini. Hanya disebutkan bahwa lisensi Office XP dibandrol senilai US$ 2,5 per komputer. Menurut Ketua Umum Yayasan BPK Penabur Robert Robianto, proses penandatanganan perjanjian dengan Microsoft ini sempat diwarnai pro dan kontra di lingkungan yayasan, sejak 10 tahun terakhir. Hal itu disebabkan biaya lisensi yang dirasa memberatkan BPK Penabur secara finansial. Meski begitu BPK Penabur akhirnya memilih untuk bekerjasama dengan Microsoft, dikarenakan ada beberapa hal yang menurut Robert menjadi alasan.Beberapa alasan yang dikemukakan Robert seperti: penawaran SA dengan harga yang relatif agak terjangkau, dijanjikan pelatihan dari MS, ada program tambahan untuk sekolah, dibantu Microsoft dalam pembelian komputer murah, pertimbangan perjanjian lisensi apabila harga lisensi mendatang jadi lebih murah.Lagipula menurut Robert, software Microsoft yang mereka gunakan hanya untuk kepentingan edukasi, bukan untuk produksi."Sekolah kita kan belajarnya World, Excel dan aplikasi Office lainnya. Kalau kita pakai yang Linux-based murid kita nggak bisa belajar aplikasi itu," kata Robert pada detikinet, di Kampus KridaWacana Gedung E Jakarta Barat, Rabu (10/8/2005). "Nanti dulu deh kalau mereka sudah kuliah di jurusan sistim informasi, kita sekarang hanya akan menerapkan software yang applicable saat ini," imbuhnya.Selain SA, BPK juga mendapatkan program Learning Grant (LG). Ini merupakan program bantuan pengembangan kapasitas seperti pelatihan, sertifikasi dan pengembangan kurikulum untuk siswa dan guru."Kita nggak asal jual lepas saja. Tapi kita juga tetap maintain mereka," ujar Andreas Pardyanto, Public Sector Manager PT Microsoft Indonesia. "Mereka dapat meng-upgrade produk Microsoft (yang sesuai perjanjian-red) free of charge," tambahnya.Program SA alias program pengembangan pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi di sekolah, Merupakan bagian dari inisiatif global Microsoft yang disebut Partners in Learning (PIL). PIL mencakup SA, LG dan Fresh Start. BPK Penabur hanya menandatangani SA, dan mendapatkan LG secara cuma-cuma.Fresh Start adalah program komputer murah yang berupa PC refurbish dengan software original berlisensi Microsoft. "Untuk mendapatkan Fresh Start, BPK Penabur harus mengeluarkan biaya tambahan sesuai jumlah komputer dan lokasi," kata Andreas. "Kami masih dalam taraf pembicaraan untuk hal itu (Fresh Start-red)," ujarnya.Peluncuran PIL secara global dilakukan Microsoft pada akhir 2002. Inisiatif itu menitikberatkan pada dunia pendidikan dengan penggunaan TI di lingkungan sekolah.Di Indonesia, program itu mulai dijalankan sejak ditandatanganinya nota kesepahaman antara PT Microsoft Indonesia dengan Departemen Pendidikan Nasional yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar di Batam pada 20 September 2003.Hingga saat ini, sekolah yang sudah menandatangani SA berjumlah 900 sekolah. Sementara dari pihak sekolah yang telah mengikuti pelatihan Microsoft mencakup 90 ribu guru serta 415 siswa.
(ketepi/)