'Perlu Kolaborasi ICT dan Bank'
- detikInet
Jakarta -
Peluang Information Communication Technology (ICT) untuk menunjang manajemen risiko di Bank sangat besar. Oleh karena itu perlu ada kolaborasi antar keduanya untuk membuat bank lebih efektif dan efisien.Thomas Arifin, General Manager Risk Management Group Permata Bank mengatakan hubungan antara manajemen risiko dengan ICT sangat kompleks. Hal itu mulai dari masalah arsitektur, database, data warehouse, audit dan jaringan.Pada dasarnya, untuk menuju implementasi manajemen risiko seperti pertimbangan untuk risiko finansial, risiko biaya dan risiko teknis, diperlukan kerjasama kuat dan terkait antara tim ICT dan tim manajemen risiko. "Kolaborasi antar keduanya bisa dimulai dengan saling mengerti satu sama lain," kata Thomas Arifin pada seminar perbankan yang diadakan di Hotel JW Marriot Jakarta Rabu (13/7/2005). Menurutnya, tim ICT punya tugas yang sangat sulit dengan beragamnya permintaan dari tim manajemen risiko. "Mereka harus melakukan coding, programming, spreadsheet sesuai permintaan kita (bagian manajemen risiko-red). Anda bisa bayangkan betapa sulit sinkronisasi antara keduanya," tambahnya.Thomas mencontohkan kolaborasi ICT dan manajemen risiko dengan aplikasi tatap muka internet banking Bank Permata. Dalam menentukan aplikasi itu menurutnya, mengalami banyak perdebatan. "Pihak manajemen ingin tampilan gambarnya bisa bergerak, tapi yang bikin aplikasi (tim ICT-red) menyarankan jangan," paparnya. Thomas Arifin GM Risk Management Group Permata Bank. "Yang jadi alasan kenapa pihak ICT menyarankan jangan ialah karena masalah bandwidth. Padahal belum tentu pihak manajemen ngerti apa itu bandwidth," jelasnya. Perlu Dukungan BIMenurut Thomas, proses kolaborasi antara ICT dan manajemen risiko perlu dukungan dari Bank Indonesia (BI). Hal itu menurutnya dikarenakan menyangkut masalah kerahasiaan suatu bank. Selain BI, menurut Thomas, dukungan dari bank jangkar diperlukan juga. Dukungan itu menurutnya, diperlukan untuk meminimalisasi risiko kehilangan yang tinggi pada bank yang melakukan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia.Untuk mengembangkan suatu proyek, menurut Thomas diperlukan pendekatan kepada tim ICT. Hal itu dilakukan dengan cara mentransfer pengetahuan dan informasi tentang rencana bisnis yang sedang dijalankan."Dengan transfer knowledge, mempengaruhi kemampuan dan visi tim ICT dalam rencana bisnis," papar Thomas. Dengan demikian, lanjutnya, perihal seperti time schedule management dan struktur bisnis, bisa diserap dengan baik oleh tim ICT.Menurut Thomas, hasil dari manajemen risiko hanya berupa data belaka. Bersama dengan tim ICT, data tersebut dapat diolah menjadi informasi. Hal itu untuk mengantisipasi pasar dan kemungkinan yang terjadi. "Core management juga ikut mempengaruhi hal itu," tambahnya.
(wicak/)