Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Uber 'Bakar' Duit Rp 16,8 Triliun dalam 6 Bulan

Uber 'Bakar' Duit Rp 16,8 Triliun dalam 6 Bulan


Fino Yurio Kristo - detikInet

Foto: BBC Magazine
Jakarta - Uber boleh saja berstatus startup termahal di dunia, dengan valuasi kabarnya lebih dari USD 60 miliar. Tapi bukan berarti layanan ride sharing itu sudah meraup untung, bahkan terungkap kalau mereka baru saja mengalami kerugian sangat besar.

Dikutip detikINET dari Reuters, Jumat (26/8/2016), media bisnis Bloomberg yang mengutip sumber internal menyatakan kalau Uber rugi sedikitnya USD 1,27 miliar atau di kisaran Rp 16,8 triliun. Kerugian itu terjadi dalam paruh pertama 2016 dalam kurun waktu sekitar 6 bulan.

Persisnya, Uber 'bakar' uang USD 520 juta di kuartal I 2016 ditambah USD 750 juta di kuartal II 2016. Menurut Bloomberg, Head of Finance Uber, Gautam Gupta, membeberkan kerugian itu dalam pertemuan dengan pemegang saham.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kerugian besar itu disebabkan tingginya biaya subsidi untuk pengemudi, terutama di China. Maka masuk akal jika akhirnya belum lama ini, Uber menyerah beroperasi sendirian di China dan memilih menjual bisnisnya di sana pada pesaing, Didi Chuxing.

CEO Travis Kalanick belum lama ini mengungkap kalau Uber rugi USD 1 miliar per tahun di China. "Uber dan Didi Chuxing berinvestasi miliaran dolar di China dan kedua perusahaan belum meraih untung," sebut Travis.

Di negara asalnya, Amerika Serikat, nasib Uber sedikit lebih baik. Bloomberg menyebut Uber mampu meraih untung di AS pada kuartal I 2016. Namun rugi sebesar USD 100 juta di kuartal II 2016.

Kerugian yang dialami Uber sebenarnya hal yang cukup umum di dunia startup. Biasanya di awal, mereka fokus meraih jumlah pelanggan dan baru berusaha melakukan monetisasi setelahnya.

(fyk/fyk)





Hide Ads