Tiga menteri kabinet kerja, Menkominfo Rudiantara, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Menteri Perindustrian Saleh Husin, berkumpul bersama untuk ikut meresmikan kehadiran smartphone 4G murah berlabel 'made in Indonesia'.
Smartphone di bawah Rp 1 juta ini merupakan ponsel Lenovo yang diproduksi di pabrik Tridharma Kencana (TDK) yang berlokasi di Serang, Banten. Ponsel dengan seri Lenovo A6010 dan A2010 ini diresmikan kehadirannya di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (4/11/2015).
Kehadiran ketiga menterinya Presiden Joko Widodo itu demi mengapresiasi Lenovo yang telah menyatakan komitmennya untuk mendukung program Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30% yang dimulai sejak 1 Januari 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebijakan TKDN ini memang sengaja didorong tiga kementerian agar momentum 4G bisa ikut dinikmati Indonesia. Dengan kata lain, agar Indonesia tak cuma sekadar menjadi pasar saja sejak era seluler generasi keempat ini.
"Apalagi dalam setahun terakhir, perputaran bisnis ponsel di Indonesia, termasuk yang dari pasar gelap, itu sekitar Rp 5 triliun," lanjut Chief RA, panggilan akrab Menteri Rudiantara.
Layanan 4G sendiri telah beroperasi di Indonesia sejak Desember 2014 lalu di frekuensi 900 MHz bersama tiga operator. Dan di akhir November 2015 ini, empat operator seluler akan kembali menghadirkan akses 4G, yang diklaim lebih cepat di spektrum 1.800 MHz.
"Meskipun 4G di 1.800 MHz belum kita komersialisasikan, tapi sekarang sudah ada 10 juta handset 4G yang teregistrasi. Jadi kami dukung kalau ada yang bisa pasarkan ponsel 4G murah di bawah Rp 1 juta seperti Lenovo ini," lanjut Menkominfo.
Menteri Saleh Husin dalam sambutannya juga mendukung langkah ini. Sebab kata dia, pertumbuhan ekonomi didukung pertumbuhan industri sehingga membutuhkan investasi besar. Saat ini, menurutnya, jumlah ponsel impor resmi di Indonesia mencapai 60 juta.
"Ke depan, impor dikurangi tentu dengan membangun pabrik di Indonesia. Apa yang dilakukan Lenovo sejalan dengan keinginan pemerintah," tambah Menperin.
Sedangkan Menteri Lembong mengatakan, pemerintah tak akan menutup keran impor bagi produsen seperti Lenovo yang telah mau mengucurkan investasi untuk memproduksi produknya di Indonesia.
"Upaya seperti ini harus dihargai. Kita tidak bisa begitu saja menutup keran impor ponsel karena mereka baru mampu TKDN 20%. Tapi perlu kita dorong lagi agar investasinya tidak sia-sia dan semakin besar di masa depan," kata Menteri Perdagangan dalam sambutannya.
Xu Dong Chen, President Mobile Business Group Lenovo & Chairman Motorola Mobility Operating Board, mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar smartphone terbesar di dunia, dan menjadi pasar utama Lenovo.
"Itu sebabnya, kami mulai memproduksi ponsel kami di Indonesia. Pabrik Lenovo yang ada di sini mampu memproduksi 75 ribu hingga 150 ribu unit smartphone per bulan atau 1,5 juta unit setiap tahunnya," paparnya di acara yang sama.
Berdasarkan riset International Data Corporation (IDC), Asia Pasifik mendominasi pertumbuhan Lenovo Mobile Group di kuartal ketiga 2015. Negara yang mendongkrak pertumbuhan antara lain, India, Vietnam, dan Indonesia.
(rou/yud)