Tak hanya itu, Direktur Anabatic Adriansyah Adnan mengungkapkan perusahaannya akan melakukan ekspansi dengan akuisisi perusahaan di kawasan regional dan domestik.
βKita tengah jajaki dua perusahaan untuk diakuisisi, salah satunya perusahaan TI asal Malaysia. Kami harapkan, September ini sudah bisa closed," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi korporasi yang gencar ini pun turut berimbas pada performa saham milik perusahaan teknologi itu di hari pertamanya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa hari lalu, Rabu (8/7/2015).
Emiten teknologi dengan kode ATIC ini dibuka Rp 700 per saham. Hingga pukul 11.25 WIB, saham perusahaan ini sempat ada di posisi Rp 760 per saham atau naik 8,75%.
Perseroan juga mencatatkan sebanyak 1,87 miliar saham. Saham itu terdiri dari saham perusahaan sebanyak 1,5 miliar dan saham yang ditawarkan ke publik sebanyak 375 juta saham atau 20% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Jumlah permintaan atas saham perdana ATIC sekitar satu kali lebih besar dari jumlah saham yang ditawarkan. Jumlah saham yang terserap mencapai 399,61 juta saham.
Nominal itu di bawah target awal yakni melepas 642,85 juta saham atau 30% saham ke publik untuk mengincar dana mengincar sekitar Rp 417,8 miliar hingga Rp 514,2 miliar.
Perseroan hanya meraup dana segar sebesar Rp 262,5 miliar dari aksi korporasi ini. Mayoritas dana atau sebesar 50% dana IPO digunakan untuk pengembangan produk. Sebesar 30% untuk pembayaran utang, dan sisanya dialokasikan untuk modal kerja. PT Bahana Securities bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi.
Direktur Independen Anabatic Felix Purwadi Mulia menargetkan pendapatan tahun ini naik sebesar 22%-23%. Sepanjang tahun 2014, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 2,57 triliun.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, pendapatan perusahaan di tahun lalu hanya naik sekitar 4% secara year-on-year (yoy). Artinya, tahun ini pendapatan diproyeksikan bisa menyentuh angka Rp 3,13 triliun-Rp 3,16 triliun.
Sedangkan laba bersih, tahun ini juga diharapkan bisa meningkat sekitar 23% atau Rp 99,63 miliar dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 81 miliar.
Sepanjang kuartal pertama 2015, laba bersih dibukukan sekitar Rp 14 miliar hingga Rp 15 miliar atau turun 30% dibandingkan periode sama tahun lalu karena tekanan nilai tukar rupiah.
Sementara penjualan perusahaan masih mengalami pertumbuhan sebesar 27% menjadi Rp 700 miliar. Sebagian besar penjualan masih ditopang oleh bisnis business process outsourcing and value added distribution yakni mencapai 60%, selebihnya bersumber dari penjualan Mission Critical System Integration dan IT services Outsourcing.Β
(rou/rou)