Target utama dari para operator seluler yang tergabung dalam aliansi yang disebut Bridge Mobile Alliance, tak lain ialah para pekerja yang tersebar di Asia Pasifik. Dari Indonesia, misalnya, para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merupakan salah satu target utama.
Director of Commerce Telkomsel, Richard Tan mengatakan, saat ini pembahasan antara para operator dengan bank yang bertindak sebagai regulator keuangan masih berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inisiatif layanan mobile wallet tersebut sengaja digagas oleh Telkomsel yang saat ini gencar mengkampanyekan layanan Telkomsel Cash (T-Cash).
Layanan T-Cash sendiri telah diluncurkan Telkomsel akhir 2007 lalu setelah setahun sebelumnya operator tersebut mendapatkan izin operasional dari Bank Indonesia untuk menyelenggarakan layanan berupa Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK).
"Layanan T-Cash pada dasarnya hanya memberi kemudahan kepada masyarakat untuk bertransaksi. Kalau kita memperhatikan layanan ATM, antara bank dengan ATM kan ada networknya. Nah, T-cash itu sekadar perantara saja antara ATM dengan bank, dengan layanan yang lebih simpel dan praktis. Dana yang ada di mobile wallet T-Cash itu ibarat kupon. Bila kupon menggunakan kertas, kita gunakan layanan seluler. Uang yang ada tetap dikelola oleh bank," jelas Dirut Telkomsel, Kiskenda Suriahardja.
T-Cash memiliki dua bentuk, pertama adalah kartu khusus dengan chip RFID (Radio Frequency Indentification Device) yang nantinya bisa dipindai di merchant untuk melakukan transaksi secara offline. Sedangkan bentuk keduanya adalah memanfaatkan transaksi online melalui pesan singkat (SMS) dengan dukungan teknologi USSD (Unstructured Suplementary Service Data).
"Untuk layanan yang bersifat online, kami masih menunggu regulasinya. Prinsipnya kami comply dengan regulasi. Untuk pengembangan T-Cash sendiri kami pada prinsipnya sangat prudent atau berhati-hati, antara lain dengan memperhatikan faktor keamanan bertransaksi," pungkasnya.
Untuk tahap awal, layanan T-Cash didukung oleh 191 titik point of sales (merchant), yang akan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan makin banyaknya institusi yang bergabung dalam layanan ini. Telkomsel sendiri telah menginvestasikan dana sebesar US$ 50 juta untuk menggarap layanan tersebut. Nilai investasi itu diharapkan bisa balik modal (break event poin/BEP) dalam jangka dua tahun jika jumlah pelanggan yang menggunakan T-Cash mencapai 5% dari 47 juta pelanggan seluler Telkomsel saat ini.Β (rou/dwn)