×
Ad

GSMA: Satelit Dibutuhkan untuk Tutup Blank Spot Indonesia

Adi Fida Rahman - detikInet
Kamis, 03 Sep 2026 18:15 WIB
GSMA: Satelit Dibutuhkan untuk Tutup Blank Spot Indonesia Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Jaringan seluler terestrial dinilai tidak cukup untuk menutup seluruh blank spot di Indonesia. GSMA menyebut konektivitas satelit akan menjadi pelengkap penting, terutama untuk pulau terpencil, daerah berpenduduk jarang, dan wilayah rawan bencana.

Direktur Spektrum GSMA Asia Pasifik Yishen Chan mengatakan 98% penduduk Indonesia memang sudah berada dalam jangkauan jaringan 4G. Namun, angka tersebut dihitung berdasarkan jumlah penduduk, bukan luas wilayah.

"Angka 98% GSMA mengukur cakupan populasi, bukan cakupan geografis. Angka tersebut menunjukkan proporsi penduduk Indonesia yang tinggal di dalam jangkauan jaringan 4G," kata Chan dalam wawancara tertulis dengan detikINET.

Menurutnya, proporsi daratan Indonesia yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi diperkirakan jauh lebih besar. Kondisi ini terutama terjadi di pulau terpencil dan wilayah dengan jumlah penduduk sedikit.

GSMA belum memiliki estimasi yang dapat dibandingkan secara langsung mengenai luas wilayah Indonesia yang belum mendapatkan jaringan terestrial.

Bisakah Seluruh Blank Spot Ditutup dengan BTS?

Menutup seluruh blank spot menggunakan jaringan terestrial saja dinilai tidak efisien secara ekonomi. BTS tetap menjadi solusi utama di daerah berpenduduk karena menawarkan kapasitas lebih besar dan model bisnis yang lebih baik.

Direktur Spektrum GSMA Asia Pasifik Yishen Chan Foto: GSMA

Namun, pembangunan jaringan di wilayah terpencil membutuhkan biaya tinggi. Operator harus menyediakan menara, pasokan listrik, jaringan penghubung atau backhaul, serta biaya pemeliharaan.

"Di pulau terpencil dan wilayah berpenduduk jarang atau rawan bencana, biaya menara, listrik, backhaul, dan pemeliharaan dapat melebihi potensi keuntungan komersial," jelas Chan.

Kepadatan penduduk dan permintaan layanan yang rendah membuat operator sulit memperoleh imbal hasil dari investasi jaringan. Menurut GSMA, kombinasi biaya pembangunan yang tinggi dan lemahnya kelayakan bisnis menjadi hambatan utama dalam menutup blank spot Indonesia.

Karena itu, jaringan seluler dan satelit diperkirakan akan berjalan berdampingan. Jaringan terestrial melayani wilayah berpenduduk, sedangkan satelit menjangkau daerah yang sulit atau terlalu mahal untuk dibangun BTS.

Ilustrasi satelit di orbit Foto: Planet




(afr/rns)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork