Membangun jaringan ternyata bukan lagi satu-satunya pekerjaan rumah konektivitas Indonesia. GSMA menilai tantangan yang semakin penting adalah mendorong masyarakat yang sebenarnya sudah terjangkau jaringan untuk benar-benar menggunakan internet.
Berdasarkan estimasi GSMA, sekitar 77% orang dewasa Indonesia sudah menggunakan mobile internet, sedangkan physical coverage gap atau populasi yang belum terjangkau mobile broadband tinggal sekitar 2%.
Sementara itu, penetrasi smartphone di Indonesia berada di kisaran 59% dari populasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Asia Pasifik, sekitar 63% populasi telah menggunakan mobile broadband, tetapi masih terdapat usage gap yang besar.
Dalam presentasinya, Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman mengatakan sekitar 35% populasi kawasan atau sekitar satu miliar orang berada dalam cakupan mobile broadband tetapi belum menggunakannya.
Sementara laporan tertulis Mobile Economy Asia Pacific 2026 mencatat lebih dari 700 juta orang dewasa masih offline meskipun wilayah tempat tinggal mereka telah tercakup mobile broadband. Perbedaan angka tersebut menggunakan basis populasi yang berbeda.
Ilustrasi koneksi Foto: detik |
Bukan Sekadar Masalah Internet
Menurut Julian, usage gap tidak seharusnya hanya dilihat sebagai persoalan masyarakat yang belum online.
"Ini sebenarnya adalah aset ekonomi yang tidak terpakai," ujarnya dalam virtual media roundtable GSMA yang dihadiri detikINET, Kamis (20/8/2026).
GSMA melihat ekonomi digital di kawasan tumbuh sekitar dua hingga empat kali lebih cepat dibandingkan physical economy. Karena itu, semakin banyak masyarakat yang terkoneksi dan aktif menggunakan layanan digital, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Konektivitas juga memiliki peran penting ketika terjadi bencana, khususnya untuk menyampaikan informasi dengan cepat kepada masyarakat dan menjalankan early warning system di daerah terpencil.
Untuk mengubah cakupan jaringan menjadi penggunaan nyata, GSMA menilai pemerintah dan industri perlu mengatasi sejumlah hambatan, mulai dari harga perangkat, literasi digital, ketersediaan konten lokal hingga keamanan dan kepercayaan masyarakat saat online.
Masalah kepercayaan menjadi semakin penting setelah laporan GSMA menunjukkan persentase konsumen ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban scam meningkat dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025.
Bisa Jadi Potensi Ekonomi Besar
Jeanette Whyte, Head of Public Affairs and External Affairs APAC GSMA.A bahkan menyebut mengatasi usage gap sebagai salah satu persoalan paling mendesak bagi Indonesia.
"Ada kesenjangan penggunaan yang besar dan itu berarti bahwa orang-orang itu bukan bagian dari ekonomi digital," katanya.
Masyarakat yang belum berpartisipasi dalam ekonomi digital berisiko semakin tertinggal. Karena itu, menurutnya, persoalannya bukan hanya memastikan perangkat terjangkau dan masyarakat mampu menggunakan internet, tetapi juga memastikan mereka merasa aman ketika berada di jaringan.
Julian menambahkan ada nilai ekonomi yang dapat dibuka dengan membuat semakin banyak masyarakat terkoneksi, tetapi hal tersebut harus berjalan bersama upaya membangun dan menjaga digital trust.
Potensinya tidak kecil. Teknologi dan layanan seluler saat ini menghasilkan sekitar USD1 triliun bagi ekonomi Asia Pasifik dan diproyeksikan meningkat 40% menjadi USD1,4 triliun pada 2030.
Mobile internet juga semakin penting bagi usaha mikro dan kecil di Indonesia. GSMA menyoroti bagaimana konektivitas, pembayaran digital seperti QRIS, AI dan layanan finansial digital memungkinkan usaha kecil berpartisipasi lebih jauh dalam ekonomi digital.
Dengan cakupan jaringan Indonesia yang semakin luas, tantangan berikutnya bukan hanya membuat sinyal tersedia, tetapi memastikan masyarakat mempunyai perangkat, kemampuan, alasan dan rasa aman untuk benar-benar menggunakannya.
(afr/fay)


