Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tender SLI
XL Kecewa, Natrindo Legowo
Tender SLI

XL Kecewa, Natrindo Legowo


- detikInet

Jakarta - PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) meminta pemerintah menjelaskan penyebab kegagalannya memenangkan lisensi sambungan langsung internasional (SLI). Sebaliknya, PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) mengaku telah menerima kekalahannya dengan lapang dada.Kedua operator tersebut dikalahkan PT Bakrie Telecom Tbk dalam tender lisensi SLI yang baru saja diselenggarakan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Departemen Komunikasi dan Informatika.Pemerintah seusai mengumumkan Bakrie sebagai operator SLI ketiga setelah PT Indosat Tbk dan PT Telkom Tbk, Senin (17/9/2007) memberikan waktu untuk menyanggah keputusan tersebut lima hari sejak pengumuman. "Hal itu ingin kami manfaatkan sebaik-baiknya agar rasa penasaran kita terjawab," ungkap Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi, ketika dihubungi detikINET, Selasa (18/9/2007).Sementara, Head of Corporate Communication NTS, Anita Avianty menuturkan, pihak manajemen perusahaannya tidak akan menyanggah keputusan tersebut dan menerimanya sebagai hasil yang terbaik."Kami di manajemen sudah sepakat untuk tidak mempermasalahkan hal ini, karena kami yakin, apapun hasilnya pasti demi kebaikan semua, dan keputusan itu juga akan berdampak baik untuk kami juga," tandasnya dengan bijak ketika berbincang dengan detikINET lewat percakapan telepon.Pertanyakan PemerintahSementara, Hasnul menuturkan, isi dari sanggahan itu mempertanyakan syarat dan ketentuan mana dari tender yang membuat XL tersandung. "Terus terang kami agak kaget dengan keputusan pemerintah yang tidak memberikan lisensi tersebut kepada XL," tegasnya.Jika dilihat dari sisi teknis berupa penyediaan sarana dan jalur alternatif ketersambungan internet ke Tier-1, menurutnya, XL lumayan kompetitif dibandingkan pemenang. "Kami telah membangun jaringan serat optik yang menghubungkan Batam dengan Malaka dan siap dioperasikan tiga bulan lagi," jelasnya.Sedangkan untuk rute menuju Tier-1, lanjutnya, XL menawarkan jalur alternatif dengan tidak memanfaatkan Singapura sebagai negara transit, tetapi Malaysia. "Pemenang memanfaatkan jalur Singapura. Padahal pemerintah sendiri yang menyatakan pemanfaatan rute Singapura itu mendapatkan penilaian yang rendah," kata Hasnul."Sekarang yang ada jaringan kami menjadi tidak dapat dioptimalkan. Padahal tujuan kita mendapatkan lisensi itu adalah ingin menawarkan SLI clear channel dengan tarif yang murah ke masyarakat. Sayang sekali niat mulia ini tidak mendapat fasilitasi dari pemerintah," sesalnya.Ketika ditanya kemungkinan XL tersandung karena masalah administrasi bukan teknis seperti isu yang berkembang belakangan ini, Hasnul menjelaskan, jika berkaitan faktor administratif sebenarnya bisa dilakukan klarifikasi saat pemeriksaan dokumen."Saya memang mendengar isu tentang tidak lengkapnya dokumen kepemilikan XL. Tetapi itu kan bisa diklarifikasi dengan memanggil kami untuk melengkapi dokumen," jelasnya. "XL ini adalah perusahaan yang tercatat di bursa, mana mungkin kita menjalankan usaha kalau kepemilikannya tidak jelas."Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar sebelumnya mempersilahkan peserta yang kalah dalam tender SLI untuk melakukan sanggahan. "Mereka berhak melakukan itu, dan kita akan memberikan jawaban secara jelas. Dan jika masih belum puas juga, permasalahan ini bisa dibawa ke tingkat menteri. Tetapi rasanya, peluang untuk mengubah hasil pemenang seleksi sangat tipis," tandasnya.Pun, dirjen menegaskan, keputusan yang diambil pemerintah telah berdasarkan profesionalisme dan objektivitas sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ada, yakni terkait administratif, finansial, teknis, rencana bisnis serta pembangunan jaringan."Disini kami tidak boleh membandingkan karena masih dalam masa sanggah, makanya kami mengambil yang terbaik dari yang disyaratkan," tutur Basuki. (rou/dbu)







Hide Ads