'Jangan Mimpi Tarif Telepon akan Turun'
- detikInet
Jakarta -
Tarif telepon di Indonesia diyakini belum akan turun secara signifikan dalam rentang waktu yang cukup lama. Sebab, tingkat pertumbuhan pelanggan telekomunikasi diperkirakan masih akan tumbuh pesat.Team Leader of Fair Telecommunication Competition dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sugihartono, khawatir hal itu terjadi karena pertumbuhan pelanggan secara industri mencapai angka 10 juta setiap tahunnya."Dengan tingkat teledensitas 30%, pasar telekomunikasi masih akan tumbuh pesat hingga sepuluh tahun mendatang. Selama itu pula tarif tidak akan turun, kecuali pasar mencapai titik jenuh," ujarnya di sela diskusi Bedah Tarif Operator Telekomunikasi di Graha Indomedia, Jakarta, Kamis (19/7/2007).Sugihartono mengatakan, ada beberapa faktor yang memengaruhi tarif, antara lain adalah biaya investasi pembangunan jaringan operator dan biaya interkoneksi. Sementara itu, Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) menambahkan pernyataan Sugihartono yang juga bertindak sebagai pengajar pada Sekolah Teknik Elektro dan Informatika di ITB.Sekretaris Jenderal Idtug, Muhamad Jumadi mengatakan, ada empat faktor lain yang ikut menentukan tarif, yaitu interkoneksi, aksesibilitas layanan, biaya, dan daya beli masyarakat."Karena di Indonesia daya beli menjadi acuan utama, maka operator berlomba-lomba menawarkan tarif promosi yang sebenarnya tidak murah juga," katanya.Ia menilai saat ini masyarakat pengguna layanan telekomunikasi tidak lagi mengetahui tarif dasar sebenarnya untuk tarif retail telepon. "Melihat tarif telekomunikasi di Indonesia, saat ini tak ada lagi real tariff dari operator. Mereka menggunakan tarif promosi untuk menggaet pelanggan baru," tegas Jumadi.Ia bilang, tarif seluler yang terbilang mahal saat ini hanya akal-akalan dari operator untuk memberlakukan tarif promosi. "Misalnya, tarif dipromosikan murah untuk periode empat bulan. Selanjutnya ada penurunan dengan promosi lagi untuk periode selanjutnya. Ini jadi membingungkan, tarif sebenarnya yang mana?" ujarnya.Ia menuding, operator berlindung dengan tarif promosi karena regulator belum mengaturnya. "Seharusnya operator memihak konsumen dengan memberlakukan tarif murah. Namun bagi pengguna, untuk merasakan tarif yang benar-benar murah rasanya masih seperti mimpi," Jumadi menandaskan.
(rou/rou)