'Tarif 3G Sewajarnya Dua Kali 2G'
- detikInet
Jakarta -
Tarif layanan seluler generasi ketiga (3G) kemungkinan besar jauh lebih mahal dibandingkan tarif seluler yang dikenakan saat ini (2G). Namun, sewajarnya, tarif 3G hanya dua kali 2G. Soal tarif diyakini akan menjadi faktor penentu adopsi layanan 3G. Dalam sebuah survei bertajuk National Technology Readiness Survey (NTRS), yang digelar di Amerika Serikat untuk periode 2005/2006, hanya 13 persen pengguna ponsel yang ingin pindah ke layanan 3G dalam satu atau dua tahun ke depan. Angka itu melonjak jadi 29 persen untuk periode lima tahun ke depan. Syaratnya? tarif dan harga ponsel yang terjangkau. Demikian dikutip detikINET dari Cellular-News.com, Senin (11/09/2006). Di Indonesia, operator 3G masih 'mengambang' dalam menentukan tarif 3G. "Layanan 3G bergantung content provider dan data yang ditawarkan. Kalau kualitasnya tinggi harganya memang lebih mahal dibandingkan tarif saat ini," kata Dirut PT Telkomsel Kiskenda Suriahardja usai peluncuran 'Dunia Bola Telkomsel *465#' di Senayan City, Jakarta, akhir pekan lalu.Artinya, video call dan video streaming yang menjadi teknologi andalan layanan tersebut kemungkinan belum bisa dinikmati dengan harga murah. Namun demikian, tambahnya, operator tidak akan mengenakan tarif tinggi terhadap layanan dasar seluler seperti voice dan SMS. "Kalau kedua layanan itu harganya tidak mengalami perubahan," ujar Kiskenda. Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar sebelumnya sudah mengatakan, pemerintah tidak akan turut campur dalam menentukan tarif layanan tersebut. Sebab 3G dianggap bukan merupakan layanan dasar telekomunikasi seluler. Namun pemerintah akan menegur operator apabila mengenakan tarif tidak sesuai dengan layanan yang ditawarkan.Dua Kali LipatPengamat telekomunikasi Abdullah Yusuf Pulungan saat workshop 3G yang diadakan Telkomsel mengungkapkan, tarif layanan tersebut mencapai lebih dari 2 kali lipat dari kondisi saat ini. "Bahkan harga jual layanannya melebihi yang diberlakukan negara tetangga yang sudah mengaplikasikan layanan ini," ujarnya. Ia menjelaskan, hal tersebut merupakan konsekuensi yang harus dilakukan operator saat mengoperasikan layanan ini di tahap awal. Sebab operator harus menginvestasikan jaringan baru agar layanan ini berfungsi optimal. "Kondisi ini tidak bedanya saat para operator membuka layanan seluler GSM sekitar 10 tahun yang lalu," katanya. Proses balik modal (break even point/BEP), ujar Yusuf, bisa mencapai 2-3 tahun tergantung konsep yang diterapkan operator. "Masing-masing operator berbeda konsepnya, kalau mementingkan kualitas mereka akan telat BEP-nya," ujarnya. Yusuf berpendapat, tarif 3G yang wajar adalah dua kali lipat tarif layanan serupa pada jaringan yang ada saat ini (2G). Hal itu menurutnya yang diterapkan negara tetangga semisal Singapura. (rou/wsh)
(wicak/)