2 Tahun Eksis, Pesantren Go Digital Lahirkan 2.000 Santri Digital

2 Tahun Eksis, Pesantren Go Digital Lahirkan 2.000 Santri Digital

ADVERTISEMENT

2 Tahun Eksis, Pesantren Go Digital Lahirkan 2.000 Santri Digital

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 13 Jan 2023 12:19 WIB
Telkom berkomitmen terus mendampingi transformasi digital di ekosistem pesantren lewat program Pesantren Go Digital.
Pesantren Go Digital. Foto: Telkom
Jakarta -

Dua tahun eksis, Telkom menyebutkan Pesantren Go Digital makin diminati. Selama itu pula, program tersebut telah melahirkan 2.000 santri digital.

Pesantren Go Digital (PGD) merupakan cara Telkom dalam digitalisasi di lingkungan pesantren. Adapun PGD ini bagian dari Leap-Telkom Digital sebagai umbrella brand produk dan layanan digital perusahaan plat merah ini.

Hani Buntari selaku Squad Leader PGD, mengatakan, detil pencapaian tersebut adalah ada 1.125 pesantren yang mengikuti program literasi digital, 1.615 pesantren berhasil membangun web pesantrennya, melahirkan lebih dari 2000 santri digital, serta 2.615 pengguna Kartu Santri dari sedikitnya 13 pesantren se-Indonesia.

"Sejak dirilis 2021 lalu, antusiasme pesantren demikian tinggi, bahkan kami tidak bisa approval semua permintaan yang ada. Namun tahun ini kami coba fasilitasi semua karena target kami tahun ini akan bertambah 100 pesantren untuk semua program kami," ujar Hani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/1/2022).

Program PGD utamanya terdiri dari layanan kartu santri, website builder, e-commerce, dakwah digital, dan konektivitas serta sedang dikembangkan sistem manajemen Pesantren. Kartu Santri memudahkan administrasi dan transaksi santri di lingkungan pesantren, website builder mendorong pesantren memiliki websitenya sendiri untuk berinteraksi dengan masyarakat global.

Kemudian, e-Commerce akan memasarkan produk unggulan pesantren secara online maupun offline dan layanan dakwah digital menjadikan santri sebagai kontributor ekslusif untuk video dakwah dan konektivitas agar pesantren terhubung ke internet.

Sepanjang 2022 lalu, pesantren yang mengikuti program Kartu Digital Santri antara lain Pesantren Riyadul Jannah (Bekasi), Nurul Hidayah (Banten), Hidayatuttholibin (Indramayu), Abu Abdillah (Lombok), dan Sabilul Muttaqin (Demak), Roudlotul Ulum (Bandung), Nurul Falah (Bogor), MBS Wanayasa (Barjarnegara), Mahad Aisyiyah (Sragen), Mambaul Huda (Pekalongan), dan Istana Quran (Barjarnegara).

Menurut Hani, sesuai dengan visi awal Telkom merilis Pesantren Go Digital sekaligus dinilai relevan dengan visi Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama, yaitu transformasi digital Pesantren sudah banyak terealisir melalui program tersebut.

"Pesantren yang sudah adopsi Kartu Santri jadi tahu preferensi santri saat bertransaksi di kantin atau koperasi pesantren, mereka jadi bisa memperkirakan apa saja jajanan yang harus banyak disiapkan. Masalah klise seperti uang santri hilang pun berkurang banyak setelah adopsi kartu cashless ini," sambungnya.

Kartu digital Santri juga diklaim memudahkan koordinasi pihak pesantren dengan orangtua santri. Selain itu, pengelolaan keuangan institusi pesantren yang sebelumnya dikelola manual, telah berubah kelolaan lebih digital.

Sementara Wahyudi, Tribe Leader Smart Village and Community Telkom menambahkan bahwa PGD merupakan ikhtiar bersama antara Telkom dengan pemerintah dan komunitas pensatren dalam mewujudkan Indonesia sebagai kiblat ekonomi syariah dunia di tahun 2024.

"Platform digital yang lebih advance seperti Big Data, API Factory, Internet of Things, Cloud Computing, Customer Engagement, dan lainnya juga sudah kami miliki. Dari sisi sarana, Telkom sudah memiliki Indonesia Digital Network untuk hadirkan jaringan internet dengan keberadaan fiber optik sepanjang 164.912 km atau mencakup cakupan layanan internet 99% dari populasi Indonesia," pungkasnya.



Simak Video "Hasil Investigasi Telkom: Data Diduga Milik IndiHome Ternyata Dijual"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT