Kolom Telematika (2)
Konvergensi, Kata Kunci TI di Balik PD 2006
- detikInet
Bielefeld -
Konvergensi adalah kata kunci penanganan jaringan Piala Dunia (PD) 2006. Beragam jaringan yang harus dilayani, ethernet, WiFi, ISDN, selular. Dan juga beragam jenis content, data, suara, gambar, dan video. Teknologi konvergensi ini disediakan oleh vendor AVAYA. Jaringan suara dan data merupakan jaringan konvergensi terbesar yang digunakan untuk event olah raga. Diperkirakan sekitar 45.000 koneksi jaringan, dan 30.000 perangkat jaringan dihubungkan. Di tiap-tiap kota dipasang layar lebar, sehingga terjadi pengumpulan massa di sekitar layar lebar. Hal ini membutuhkan antisipasi lonjakan data pula, karena pada saat pertandingan berlangsung tidak tertutup kemungkinan pengunjung mengirim foto, menelfon, melihat data pertandingan, mengirim SMS, mengupload gambar, mendownload video clip dan lain sebagainya. Untuk mengantisipasi lonjakan telfon ketika terjadinya pertandingan, maka dipasang beberapa BTS tambahan untuk mengatasi kebutuhan bandwidth tambahan.Di samping itu komunikasi suara dari hotel, kantor dan stadion harus juga mulus disediakan. Karena panitia FIFA tidak ingin mengeluarkan dana tambahan untuk koneksi suara, maka penggunaan VoIP di jaringan yang ada menjadi pilihan. Jaringan yang disediakan untuk Piala Dunia ini harus bersifat terbuka, redundant, serta memiliki kehandalan yang bisa dipertanggung-jawabkan yaitu sekitar 99.9999 %. IP based dijadikan pilihan untuk melayani lalulintas data dan suara serta multimedia. Sedangkan ekstensi selular dan VPN remote disediakan untuk memudahkan pekerjaan panitia. Avaya memanfaatkan teknologi dari Extreme Networks untuk menyediakan layanan ini.Untuk menjamin beroperasinya sistem, maka Avaya memanfaatkan ribuan algoritma yang akan memonitor jaringan, melakukan prioritas traffic dan mengatasi problem yang timbul secara otomatis. Teknologi Avaya EXPERT System, Avaya Remote Network Management System, Avaya CajunView menjadi sistem yang dimanfaatkan dalam jaringan Piala Dunia ini. Teknologi intrusion deteksi digunakan untuk mencegah virus dan serangan keamanan.White Hacker Hingga Sekuriti dibalik Piala Dunia 2006Untuk sekuriti pihak Avaya tidak bermain-main, karena yakin dalam event seperti ini tentu akan banyak pihak yang ini mencoba-coba. Untuk itu Avaya telah menyewa beberapa group "white hacker" untuk menguji keaman sistem secara terus menerus. Tentu saja fasilitas Avaya ini tidak saja di stadion dan kantor tapi juga ke hotel tempat tinggal pemain dan pelatih.Avaya telah terlibat di dalam penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya, jadi sudah lumayan berpengalaman dalam kegiatan seperti ini. Tapi waktu yang pendek juga menjadi halangan khusus, karena hanya 1 bulan waktu yang disediakan untuk membangun network tersebut. Tentu saja ini dapat terjadi karena adanya dukungan logistik yang baik.Pemanfaatan TI lain adalah di dalam bidang sekuriti, yaitu jaminan keamanan penyelenggaraan Piala Dunia. Seperti diketahui dalam Piala Dunia, kasus karcis palsu, pasar gelap karcis dan di samping itu faktor keamanan akibat ancaman teroris juga menjadi pertimbangan utama. Untuk itu Siemens menyediakan berbagai perangkat keselamatan dan keamanan untuk stadion, misal deteksi api, asap, deteksi gerak. Begitu juga tiket yang memanfaatkan teknologi dengan Radio Frequency Identification (RFID). Pada 3 juta ticket yang dibuat, telah disertakan RFID yang akan menyimpan data nama, alamat, tempat tanggal lahir, warga negara, serta nomor passport. Hal ini untuk menghindari terulangnya kasus Olimpiade Munich di tahun 1972. Ticket ini akan diperiksa dengan menggunakan proses otentifikasi secara real time di 12 stadion. Sehingga integrasi sistem pengenalan RFID dan sistem database penjualan haruslah baik dan dengan kapasitas yang memadai.Sementara itu tiap stadion dilengkapi dengan kamera yang akan menyimpan informasi biometrik dari pengunjung untuk mendeteksi kemungkinan penyebab kerusuhan. Disamping itu panitia juga menyiapkan Central Sport Intelligence Unit di Neuss (dekat Dusseldorf) yang akan berhubungan dengan berbagai polisi dari berbagai negara untuk menginformasikan bila ada supporter yang seirng menyebabkan kerusuhan. Informasi dari kamera ini akan dikoneksikan ke polisi-polisi tersebut. Sehingga bila polisi negara yang bersangkutan mengenali bahwa ada penonton yang tergolong biang kerok, maka polisi setempat bisa langsung dikontak, dan tindakan preventif dilakukan. Jerman memang tidak mau main-main dengan masalah keamanan ini, tetapi tidak mau memberikan kesan "ketakutan" sehingga menimbulkan atmosfir pesta bersama yang ingin ditimbulkan.Untuk melengkapi faktor keamanan itu, diturunkan pula 11 robot berbasis Linux dari Robowatch Technology yang menyediakan pengawasan di dalam ruangan atau di luar ruangan, setiap malam hingga akhir Piala Dunia. Robot untuk penggunaan luar yang dikenal dengan sebutan ORFO ini, menggunakan GPS untuk melakukan patroli hingga 2 kilometer dari pusat kendali. Memiliki kamera termal untuk mendeteksi intruder berdasarkan panas tubuhnya. Tetapi robot ini tidak dilengkapi dengan senjata, demi menghindari kesalahan tembak. Robot untuk pengunaan dalam diberi nama MORSO, dipasang di dalam stadion, dilengkapi dengan kamera video, sensor radar, pengukur suhu dan scanner inframerah yang dapat mendeteksi gerakan di dalam stadion. Robot-robot ini berkomunikasi menggunakan teknologi 3G dengan pusat kendali.Keterangan Foto (atas ke bawah) : I Made Wiryana, Fotografer: rou/inet; Monitor jaringan, sumber : Avaya; Pintu masuk stadion, Sumber: Engadget; Robot penjaga, Sumber endgadget.*) Penulis, I Made Wiryana adalah dosen Universitas Gunadarma dan sorang mahasiswa yang saat ini sedang mengambil gelar doktoral jurusan Computer Science di Universitas Bielefeld, Jerman. Made juga sering disebut sebagai aktivis Linux Indonesia.
(annisa/)