Sebelas Tahun Telkomsel
Dongeng Cinderella dan Ratu Penyihir di Abad Teknologi
- detikInet
Jakarta -
Setiap operator berhak menentukan dongeng mana yang hendak dipilih dan berperan sebagai siapa di kisah itu. Begitu pula di abad teknologi ini. Pilihan ada di tangan masing-masing."Mimpi kali yee...", mungkin itu ucapan yang terlintas di benak masyarakat Indonesia jika membayangkan berbicara dengan seseorang yang nun jauh di seberang pulau tanpa seutas kawat penghubung pada puluhan tahun silam. Apalagi bila membayangkan bisa melihat langsung sang lawan bicara. Suatu 'hil' yang 'mustahal' di kala itu.Namun, tak ada yang tak mungkin dunia ini. Berkat kecanggihan sebuah teknologi, semuanya menjadi mungkin. Layaknya sebuah dongeng yang merajut mimpi, apapun bisa terjadi. Bermula dari mimpi, diimplementasikan dengan kerja keras. Impian bak Cinderella pun bisa diwujudkan di abad teknologi. Telkomsel pun bisa coba mewujudkannya.Menengok 'Dongeng' Sejarah SelulerDua puluh tahun silam, tonggak sejarah telepon nirkabel ditancapkan di Bumi Pertiwi. Saat itu, PT Telkom bersama dengan PT Rajasa Hutama Putra (PT Mobisel), mengusung teknologi NMT 450 melalui pola bagi hasil pada 1986. Tiga tahun berselang, teknologi AMPS pun hadir. Adalah PT Elektrindo Nusantara (PT Komselindo) dan PT Centralindo Persada Selular (PT Metrosel) yang digandeng Telkom untuk mengimplementasikan teknologi itu.Era pertama selular GSM (Global System for Mobile Communication) di Indonesia pun hadir. Cikal bakal itu lahir pada Oktober 1993 melalui pilot project Telkom di Batam dan Bintan, yang kemudian jangkauannya diperluas sampai ke Pekanbaru dan Medan.Di tahun itu pula pemerintah memberikan izin lisensi pada Satelindo. Baru kemudian disusul Telkomsel dan Excelcomindo. Baru pada 24 Agustus 1994, Telkom dan Indosat mendapatkan izin operasi GSM. Setahun berselang, tepatnya 26 Mei 1995, lahirlah Telkomsel sebagai operator yang kelak menguasai pasar seluler di Indonesia.Ratapan Anak Tiri, Berbuah KebahagianBila diibaratkan sebagai manusia, Telkomsel kini telah tumbuh bagaikan remaja yang penuh percaya diri. Menginjakkan usianya di sebelas tahun, langkah operator seluler itu kian mantap.Namun untuk menjadi sosok seperti itu, bukannya tanpa perjuangan. Dikesampingkan, justru makin membuatnya kuat dan sarat pengalaman.Dahulu, Telkomsel bukanlah operator GSM yang pertama. Bahkan tak boleh segera masuk ke Jakarta meski sudah mendapat izin operasi pada 26 Mei 1995.Layaknya 'anak tiri', pemerintah mendahulukan Satelindo yang hadir sejak 1993 dan beroperasi mulai dari Jakarta, untuk tumbuh berkembang. Ternyata, tak selamanya jadi 'anak tiri' selalu diakhiri dengan meratapi kesedihan. Larangan masuk ke Jakarta membawa berkah. Telkomsel pun gencar melayani Batam, Bintan, Pekanbaru dan Medan sebelum akhirnya masuk ke Pulau Jawa. Sang 'Upik Abu' pun terus mengembangkan cakupannya di kota-kota di luar Jakarta yang ternyata potensial. Tak sampai setahun, semua ibu kota propinsi sudah dilayani, sementara sang 'kakak tiri' hanya berkutat di Pulau Jawa saja.Jeli melihat pasar menjadi senjata utama. Tatkala ponsel hanya bisa dinikmati kalangan berpunya, Telkomsel hanya menjual nomor. Sementara ponselnya terserah pelanggan. Kala itu, ponsel masih terbilang sangat mahal. Di awal 1990-an saja, harga ponsel bisa mencapai Rp 15 juta.Mimpi pun terus dirajut dan perlahan menjadi kenyataan. Strategi yang jitu membuat pertumbuhan pelanggan kian drastis. Berawal hanya 26.000 pelanggan di 1995, 'Cinderella' pun tumbuh manis dan diminati 27,5 juta lebih pelanggan hingga penghujung kuartal pertama 2006. Sebuah peningkatan 1.060 kali lipat.Sementara sang saudara 'tiri' terdekatnya sibuk menguntit dengan angka pelanggan tiga belas juta dan delapan juta. Belum lagi saudara 'tiri' jauh yang ikut merebut kue pelanggan yang tersisa.Sihir TeknologiBerbicara mengenai dongeng, biasanya tak lepas dari yang namanya sihir. Kali ini, pada dongeng di abad modern, sihir yang berlaku ialah teknologi informasi dan telekomunikasi.Bila melihat kisah teknologi yang kian beranjak dewasa, hingga bisa merekatkan jarak geografis antar manusia itu, sangatlah mencengangkan. Pertumbuhannya dari sisi teknologi dan penyerapan pengguna, terbilang sangat pesat.Sepanjang 13 tahun seluler GSM resmi beroperasi, tercatat lebih dari 50 juta kartu ponsel beredar di pasaran. Sektor telekomunikasi makin jadi tumpuan pendapatan. Separuhnya lebih didominasi oleh nomor seluler dengan prefix 0811, 0812, 0813, dan 0852.Saking maraknya di sektor itu, berbagai inovasi pun dilempar demi memuaskan pasar, tak terkecuali Telkomsel. Beragam produk seperti GPRS, WiFI, EDGE (Enhanced Data rate GSM Evolution), serta menyusul teknologi 3G, pun diusung oleh perusahaan itu. Operator lain turut serta mengikuti pakem yang sama.Demi menghadirkan 'sihir' teknologi baru yang bisa membuat penggunanya melihat langsung lawan bicara, Telkomsel pun harus merogoh koceknya cukup dalam ketimbang operator lain. Demi mendapatkan lisensi 5 MHz untuk 'sihir' 3G, Rp 218 miliar pun digelontorkan demi teknologi yang bisa menghantarkan bandwidth cukup besar, 384 Kbps hingga 2 Mbps.Operator yang sahamnya dikuasai Telkom 65% dan SingTel 35% itu juga cukup berani menatap ke depan. Belum diluncurkan saja, Dirut Telkomsel Kiskenda Suriahardja sudah berani menargetkan 18 juta pelanggan 3G di 2010. Barisan tempur untuk penjualan pun tak kalah mentereng. Sebanyak 2.000 Customer Services, 250 GraPARI dan GeraiHALO, 750 KiosHALO, 3.000 Outlet Dealer Telkomsel, dan 1.000 Retail Nasional, siap dikerahkan untuk menaklukan pasar.Demi menyisir Nusantara, Telkomsel pun telah menancapkan lebih dari 11.000 Base Transceiver Station (BTS). Alasannya demi memperluas jangkauan layanan selular hingga seluruh Kota Kabupaten dan Kecamatan.Lalu, dengan dalih memuaskan dahaga pelanggan akan teknologi, Telkomsel juga mengucurkan fitur-fitur seperti Mobile Banking, GPRS, MMS, Video Streaming, Hotspot WiFi, m-ATM, Telkomsel Call Me, Nada Sambung Pribadi, Push Email HALOventus dan Blackberry.Banyak sekali jurus-jurus sihir yang dimiliki oleh para operator telekomunikasi itu, namun sayangnya, masih di strata tertentu saja pelanggan yang mampu menggunakan jurus tersebut.Merebut EmpatiTernyata, tak selamanya sihir teknologi bisa menaklukan pasar. Tak semudah itu merebut hati pengguna yang kritis. Semua operator pun berlomba-lomba menebar pesona. Apalagi dengan adanya musibah gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya. Semua berlomba-lomba merapalkan jurus.Di luar itu, Telkomsel juga tak mau ketinggalan merebut hati pelanggannya. Digelarlah suatu gerakan kepedulian peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Di ulang tahunnya yang ke-11, operator itu mengalokasikan dana sekitar Rp 1,5 miliar untuk sunatan masal pada 2.200 anak, operasi bibir sumbing untuk 150 orang, serta untuk donor darah.Selain itu, dana senilai Rp 2,2 miliar juga dialokasikan Telkomsel ke 110 Sekolah Dasar di berbagai wilayah Indonesia demi pengadaan dan perbaikan sarana sanitasi serta lapangan upacara. Tak ketinggalan pula donasi perangkat komputer pada 26 Yayasan Sosial dan program kepedulian Telkomsel Connect to Campus.Empati yang coba direbut juga tak melulu pada pelanggan saja. Demi menjaga kepentingan seluruh stakeholders, mulai awal 2006 ini, Telkomsel mengimplentasikan metode kontrol internal berstandar internasional Sarbannes Oxley Act (SOA), Alasannya, metode itu diklaim memberikan jaminan laporan kinerja keuangan perusahaan yang diperoleh dari suatu proses tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), dengan cara yang benar dan transparan.Ratu PenyihirKisah dongeng tak melulu hanya Cinderella. Ada pula kisah Putri Salju dan Ratu Penyihir. Nah, pada kisah ini, yang menjadi peran antagonis ialah Ratu Penyihir. Umumnya sebuah dongeng klise, sang protagonis dan yang selalu tertindas, adalah Putri Salju. Pada kisah ini, yang menjadi pokok permasalahan ialah rasa iri Ratu Penyihir pada Putri Salju yang cantik. Kecantikan itu dianggap bisa mengganggu hegemoni kekuasaannya.Konon, sang Ratu Penyihir pada masa kejayaannya sangatlah cantik dan dipuja banyak orang. "Mirror-mirror on the wall, who's the fairest of all?" tanyanya selalu pada cermin kepercayaannya dan berharap tetap dia lah yang tercantik. Karena saking percaya diri dan berasa di atas angin, akhirnya dia menjadi sombong, merasa yang terhebat, dan bisa seenaknya. Cermin pun selalu menjawab Ratu lah yang tercantik, hingga pada suatu ketika datang sebuah 'ancaman' dari Putri Salju yang lebih cantik dan lebih muda. Sang Cermin pun membenarkan segala kelebihan Putri Salju dibandingkan sang majikanKontan saja hal itu membuat Ratu Penyihir marah. Berbagai cara pun ditempuh oleh sang Ratu untuk menyingkirkan 'pesaingnya'. Baginya, cara kotor sah-sah saja asalkan dirinya tetap menjadi nomor satu dan terus dipuja seperti sediakala.Kecantikan fisik akan memudar seiring berjalannya waktu, namun kecantikan dari dalam takkan lekang dimakan zaman. Hal ini yang tak bisa diterima oleh akal sehat sang Ratu. Akhirnya, dijalankanlah sebuah misi untuk menyingkirkan Putri Salju. Upayanya hampir berhasil. Namun, Putri Salju yang baik hati dan mendapatkan dukungan empati dari berbagai pihak, berhasil diselamatkan. Kejahatan sang Ratu tidak dibalas langsung oleh sang Putri Salju, tapi oleh pihak lain. Ego dan kesombongan yang menggerogoti Ratu Penyihir, membuat pendukungnya berbalik jadi antipati padanya. Dan pada akhirnya menghancurkan hegemoni tersebut. Singkat cerita, Putri Salju yang tidak sombong dan baik hati itu, akhirnya mendapatkan kebahagiaan dan kejayaan.Cinderella vs Ratu PenyihirDi antara kisah Cinderella versus Ratu Penyihir, setiap operator berhak menentukan dongeng mana yang hendak dipilih, dan berperan sebagai siapa di kisah itu.Sayangnya di abad teknologi ini, jalan menuju singgasana bak Cinderella kian rumit. Dongeng pun belum akan berhenti sampai di sini. Begitu pula dengan pelakon dongeng di abad ini. Pilihan ada di tangan masing-masing. Kedewasaan operator dalam bersikap, sangat menentukan akhir dari sebuah cerita. Begitu pula dengan Telkomsel yang menapaki usianya di sebelas tahun. (rou)Penulis adalah wartawan teknologi informasi dan telekomunikasi di kanal detikINET, situs berita www.detik.com. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail rourry[at]staff.detik.com. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(rouzni/)